B A H A G I A

Kata bahagia banyak ditafsirkan berbeda-beda makna dan karekteristik bahasa  dan kata orang ujung kulon mengatakan “My Happy” gembira bisa dikatakan bahagia, begitu sempit makna itu, oleh karena  itu banyak yang diburuh oleh tiap insan yang tidak mengenal kasta, umur dan kepangkatan, namun dalam menggapai kebahagiaan banyak jalan yang menuju Bahagia, tapi pada hakekatnya kebahagiaan yang mereka peroleh “Semu” karena tidak ada kata formula yang sama. Oleh karena itu pula Kebagaiaan yang hakiki adalah Kebahagiaan yang dirumuskan oleh sang pencipta Insan, Melalui Al Qur’an dan Alkhadis. Dan sebagian orang sufi mengatakan  dengan menitik beratkan kepada tanda-tanda orang yang Paling Bahagia yaitu  “ Orang yang paling berbahagia adalah orang yang mempunyai hati alim, badan sabar dan puas dengan apa yang ada ditangannya

alam Artinya HATI ALIM , adalah yang menyadari bahwa     Alloh senantiasa menyertai dimana saja diaberada. BADAN SABAR artinya : sabar dalam melaksanakan/menunaikan perintah agama dalam menghadapi bencana.  PUAS artinya menerima apa adanya, sikap puas yang mendasar dikala tidak  melihat harapan lain, Dengan demikian kebahagiaan yang sifatnya semu tadi akan menjadi kongkrit, sebab kebahagiaan itu tidak ada batasan garis yang jelas dengan kesengsaraan, tapi setidaknya penafsiran kebahagiaan secara religius masih  tertampung dalam wadah syariat.  Dan pemilikan harta, kasta, pangkat/jabatan, keterunan tidak akan bisa menjamin akan datangnya kebahagiaan secara mutlak buktinya banyak kita temui dimuka bumi ini, kita mengenal Kharina putrid satu-satu ONASIS yang memiliki kekayaan melyadern, mati dalam keadaan bunuh diri,

seperti apa yang dikatakan oleh Imam Sulaiman Ad-Darani dari Syeh Abdurokhman bin Arhiyah. Dalam munanjatnya mengatakan “ Wahai Tuhanku. Apabila Engkau menuntutku karena dosaku, tentu akupun menuntut ampunan-Mu, Apabila engkau menuntutku karena kekikiranku, tentu aku akan menuntut kedermawanan-Mu Dan apabila Engkau memasukkanku ke neraka, tentu akupun akan memberitakan kepada ahli neraka, bahwa sesungguhnya aku mencintai-Mu”,

jelas disini seorang suffipun jauh lebih butuh jalan untuk mencapai kebahagiaan hakiki secara syariati, Aku menuntut dengan ampunan-Mu pasti lebih luas dibanding dengan dosaku, Kikir dimaknakan memberikan sedekah dan pengabdian kita kepada Alloh guna melaksanakan perintahNya. Karena manusia didalam menunaikan kepuasan tidak pernah tercapai, karena kepuasan itu sendiri tidak perna usai dalam pemenuhan kebutuhan kepuasan manusia, sehingga kebahagiaan itu sulit dicapai oleh manusia, terkecuali dirinya sendiri memuaskan untuk munajjat kepada Allahi. Walaupun didalam ISO kepuasan pelanggan 3,01%. Oleh karena itu untuk bisa memuaskan sesuatu harus berkaca pada Norm Syariat, seperti apa yang dikatakan oleh Al Hasan Basri “barang siapa tidak beradab, maka tidak berilmu, barang siapa tidak punyak kesabaran, berarti ia tidak punya agama dan barang siapa tidak punya warak, berarti dia tidak mempunyai kedudukan di dekat Alloh swt”. ADAP meliputi sopan santu terhadap Alloh maupun kepada sesama manusia, orang yang tidak beradab berarti tidak mempunyai ilmu. SABAR adalah ketabahan dalam menghadapi bencana dan kedzaliman sesama manusia, dan juga ketabahan dalam menyingkirkan maksiat. WARAK adalah kesanggupan diri untuk meninggalkan sesuatu yang haram dan sesuatu yang tidak jelas halal dan kharamnya.

Jalan inilah yang harus kita anut guna mencapai sasaran mutu yakni Bahagia, baik didunia, tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkan Orang Sabar, karena sabar inilah Ujung tombak dalam mencapai kebahagiaan itu sendiri.

(Ch4m4)