aAllhuakbar begitu agung nilai yang Alloh berikan kepada insan yang dhoif ini dan alangkah naifnya jika manusia sudah dimuliakan oleh Tuhannya, diangkat dan dimuliakan dimuka bumi, dilaut, diangkasa sampai kesemua makhluk tuhan lainnya, “manusialah” yang paling mulia. Demikian juga rasa cinta. Cinta yang hakiki, diberikan kepada Makhluk Illahi yang berupa cintra rasa, terselubung dalam dada tiap-tiap insan oleh sebab itu cinta tidak bisa dipaksa, diperkosa bahkan nyawapun ia serahkan tanpa aling-aling. Tatkala Alloh menciptakan manusia akal, nafsu dan cinta ada dalam balutannya, tak heran jika Alloh memberikan dan menumbuhkembangkan rasa cinta dalam dada untuk tiap-tiap insan yang bermartabat. Secara naluri cinta akan selalu bertambah dan berkurang. Demikian juga timbangan cinta dalam dada. Dalam salah riwayat disebutkan”Jangan mencintai sesuatu dengan sungguh-sungguh mencintai boleh jadi akan menjadi musuhmu daan janganlah kamu selalu membenci dengan sungguh menbenci sesuaatu boleh jadi akan menjadi kekasihmu” jelas takaran dan timbangan cinta selalu akan merubah tergandung pada kondisi dan situasi. Namun jangan disamakan jika seseorang cinta kan tuhannya. Seorang sufi bernama Abdulloh bin Mubarro” tatkala oleh seorang tabib dinyatakan kena kanker kaki, yang harus diamputasi jika tidak akan membahayakan jiwanya dan saat kedokteran tidak semaju sekarang dalam dunia medis. Maka dinyatakan oleh seorang tabib harus diamputasi ? apa jawab beliau ok. Silakan diamputasi dan lakukan sesuai dengan SOP pada waktu itu ? tatkala aku sedang melaksanakan sholat ? maka dirancanglah pelaksanaan operasikan kanker pada salah satu kakinya. Alllohuakbar Pada waktu sholat berlangsung maka dilakukan operasi/amputasi dan setelah diamputasi untuk mengurangi pendaharaan maka dimasukkan kaki yang dipotong ke dalam minyak tanah yang mendidih, sehingga darah tidak banyk yang keluar. Apa yang terjadi beliau tidak merasa sama sekali dalam perjalanan amputasi pada salah satu kakinya. Ambaoy bagaimana bisa terjadi ? jawablah aku lebih cinta kepada Alloh sehingga apa yang terjadi padaku aku tidak merasa apa apa ? lain hal bila sseorang insan cinta kepada Rosulullah, sehingga mereka rela mengorbankan dirinya demi cinta kepada baginda rosul, sampai-sampai apa yang diimpikan mereka tidak mau membantu sebuah hikayat “ Asy Sibli datang kepada Ibnu Mujahid, seraya merangkulnya dan mencium keing di antara kedua matanya, Asy Sibli bertanya kepada Ibnu Mujahid “ mengapa kamu melakukan hal ini ? Ibnu Mujahid menerangkan “Ketika sedang tidur aku bermimpi melihat Rosulullah saw, Beliau berdiri menghampirimu dan mencium kening antara kedua matamu, aku bertanya kepada beliau : Yaa Rosululloh, mengapa Tuan melakukan hal ini kepada Asy Silbi ? beliau menjawab : aku melakukan itu karena seetiap di selesai sholat fardhu dia selalu membaca ( Q.S. At Taubah : 128-129) yang artinya : Sesungguhnya elah datang kepadamu seorang rosul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keselamatan bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah : Cukuplah Alloh bagiku, tidak ada tuhan selain Dia, dan kepadaNya aku berserah diri dan Dia-lah tuhan pemilik Arsy yang agung. Langkah indahnya cinta kepada Alloh dan Rosul dibanding kepada cinta kepada Istri, anak dan kekasih semua akan sirna bila disbanding kepada cinta keduaNya. Karena cinta kepada dunia hanya bisa di nikmati saat dia dalam keadaan sehat, aman dan kondisi normat, tapi jika sebaliknya maka cinta kepada istri, anak dan harta tidak akan bisa terasa. Kita ambil contoh sewaktu waktu sakit ? apa yang ada di hadapannya belum tentu akan menjadi jaminan bisa di nikmatinya. Acara TV yang indah dan ramai akan terasa silau bagi orang yang kena penyakit mata, Duraian, Coklat akan terasa pahit bagi orang yang terkena penyakit lidah, rokok djie sam soe tidak akan bisa dinikmatinya oleh orang yang terkena penyakit paru-paru ? itukah gambaran cinta kenikmatan dunia ? lain halnya cinta kepada Alloh dan Rusulnya, dalam keadaan sehat dan sakit sama nikmatnya. Tanpa ada batas yang menghalanginya kecuali orang-orang yang mata hatinya ditutup