Agustus 2011


WAJIB KITA KEJAR

Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi dan utusan yang paling mulia. Risalah ini ditujukan kepada setiap muslim yang beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Tujuan utama yang sangat urgen bagi setiap muslim adalah ia keluar meninggalkan dunia fana ini dengan ampunan Allah dari segala dosa sehingga Allah tidak menghisabnya pada hari Kiamat, dan memasukkannya ke dalam surga kenikmatan, hidup kekal didalamnya, tidak keluar selama-lamanya. Di dalam risalah yang sederhana ini kami sampaikan beberapa amalan yang dapat melebur dosa dan membawa pahala yang besar, yang kesemuanya bersumber dari hadist-hadist yang shahih. Kita bermohon kepada Allah yang Maha Hidup, yang tiada Tuhan yang haq selain Dia, untuk menerima segala amalan kita. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

1. TAUBAT
“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan mengampuninya” HR. Muslim, No. 2703. “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama ruh belum sampai ketenggorokan”.

2. KELUAR UNTUK MENUNTUT ILMU
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga” HR. Muslim, No. 2699.”

3. SENANTIASA MENGINGAT ALLAH
“Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, tersuci disisi Allah, tertinggi dalam tingkatan derajat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata: “Tentu”, lalu beliau bersabda: ( Zikir kepada Allah Ta`ala )” HR. At Turmidzi, No. 3347.

4. BERBUAT YANG MA`RUF DAN MENUNJUKKAN JALAN KEBAIKAN
“Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya” HR. Bukhari, Juz. X/ No. 374 dan Muslim, No. 1005.

5. BERDA`WAH KEPADA ALLAH
“Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” HR. Muslim, No. 2674.”

6. MENGAJAK YANG MA`RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR.
“Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman” HR. Muslim, No. 804.

7. MEMBACA AL QUR`AN
“Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya” HR. Muslim, No. 49.

8. MEMPELAJARI AL QUR`AN DAN MENGAJARKANNYA
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya” HR. Bukhari, Juz. IX/No. 66.

9. MENYEBARKAN SALAM
“Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah kalian beriman (sempurna) sehingga berkasih sayang. Maukah aku tunjukan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan kasih sayang di antara kalian? (yaitu) sebarkanlah salam” HR. Muslim, No.54.

10. MENCINTAI KARENA ALLAH
“Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat: ((Di manakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku)” HR. Muslim, No. 2566.

11. MEMBESUK ORANG SAKIT
“Tiada seorang muslim pun membesuk orang muslim yang sedang sakit pada pagi hari kecuali ada 70.000 malaikat bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan apabila ia menjenguk pada sore harinya mereka akan shalawat kepadanya hingga pagi hari, dan akan diberikan kepadanya sebuah taman di surga” HR. Tirmidzi, No. 969.

12. MEMBANTU MELUNASI HUTANG
“Barangsiapa meringankan beban orang yang dalam kesulitan maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat” HR. Muslim, No.2699.

13. MENUTUP AIB ORANG LAIN
“Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat” HR. Muslim, No. 2590.

14. MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI
“Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: “Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya” HR. Bukhari, Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim, No. 2555.

15. BERAKHLAK YANG BAIK
“Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab: “Bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik” HR. Tirmidzi, No. 2003.

16. JUJUR
“Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukan jalan menuju surga” HR. Bukhari Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim., No. 2607.

17. MENAHAN MARAH
“Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai” HR. Tirmidzi, No. 2022.

18. MEMBACA DO`A PENUTUP MAJLIS
“Barangsiapa yang duduk dalam suatu majlis dan banyak terjadi di dalamnya kegaduhan lalu sebelum berdiri dari duduknya ia membaca do`a:
(Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu) melainkan ia akan diampuni dari dosa-dosanya selama ia berada di majlis tersebut” HR. Tirmidzi, Juz III/No. 153.

19. SABAR
“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim baik berupa malapetaka, kegundahan, rasa letih, kesedihan, rasa sakit, kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan melebur dengannya kesalahan-kesalahannya” HR. Bukhari, Juz. X/No. 91.

20. BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
“Sangat celaka, sangat celaka, sangat celaka…! Kemudian ditanyakan: Siapa ya Rasulullah?, beliau bersabda: (Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di masa lanjut usia kemudian ia tidak bisa masuk surga)” HR. Muslim, No. 2551.

21. BERUSAHA MEMBANTU PARA JANDA DAN MISKIN
“Orang yang berusaha membantu para janda dan fakir miskin sama halnya dengan orang yang berjihad di jalan Allah” dan saya (perawi-pent) mengira beliau berkata: (Dan seperti orang melakukan qiyamullail yang tidak pernah jenuh, dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka)” HR. Bukhari, Juz. X/No. 366.

22. MENANGGUNG BEBAN HIDUP ANAK YATIM
“Saya dan penanggung beban hidup anak yatim itu di surga seperti begini,” seraya beliau menunjukan kedua jarinya: jari telunjuk dan jari tengah.HR. Bukhari, Juz. X/No. 365.

23. WUDHU`
“Barangsiapa yang berwudhu`, kemudian ia memperbagus wudhu`nya maka keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya, hingga keluar dari ujung kukunya” HR. Muslim, No. 245.

24. BERSYAHADAT SETELAH BERWUDHU`
Barangsiapa berwudhu` lalu memperbagus wudhu`nya kemudian ia mengucapkan:
”(Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya,Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci),” maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia dapat memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki” HR. Muslim, No. 234.

25. MENGUCAPKAN DO`A SETELAH AZAN
“Barangsiapa mengucapkan do`a ketika ia mendengar seruan azan:
(Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah (derajat paling tinggi di surga) dan kelebihan, dan bangkitkanlah ia dalam kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya) maka ia berhak mendapatkan syafa`atku pada hari kiamat”HR. Bukhari, Juz. II/No. 77.

26. MEMBANGUN MASJID
“Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan keridhaan Allah maka dibangunkan baginya yang serupa di surga” HR. Bukhari, No. 450.

27. BERSIWAK
“Seandainya saya tidak mempersulit umatku niscaya saya perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap shalat” HR. Bukhari II/No. 331 dan HR. Muslim, No. 252.

28. BERANGKAT KE MASJID
“Barangsiapa berangkat ke masjid pada waktu pagi atau sore, niscaya Allah mempersiapkan baginya tempat persinggahan di surga setiap kali ia berangkat pada waktu pagi atau sore” HR. Bukhari, Juz. II/No. 124 dan HR. Muslim, No. 669.

29. SHALAT LIMA WAKTU
“Tiada seorang muslim kedatangan waktu shalat fardhu kemudian ia memperbagus wudhu`nya, kekhusyu`annya dan ruku`nya kecuali hal itu menjadi pelebur dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya selama ia tidak dilanggar suatu dosa besar. Dan yang demikian itu berlaku sepanjang masa” HR. Muslim, No. 228.

30. SHALAT SUBUH DAN ASHAR
“Barangsiapa shalat pada dua waktu pagi dan sore (subuh dan ashar) maka ia masuk surga” HR. Bukhari, Juz. II/No. 43.

31. SHALAT JUM`AT
“Barangsiapa berwudhu` lalu memperindahnya, kemudian ia menghadiri shalat Jum`at, mendengar dan menyimak (khutbah) maka diampuni dosanya yang terjadi antara Jum`at pada hari itu dengan Jum`at yang lain dan ditambah lagi tiga hari” HR. Muslim, 857.

32. SAAT DIKABULKANNYA PERMOHONAN PADA HARI JUM`AT
“Pada hari ini terdapat suatu saat bilamana seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedangkan ia berdiri shalat seraya bermohon kepada Allah sesuatu, tiada lain ia akan dikabulkan permohonannya”HR. Bukhari, Juz. II/No. 344 dan HR. Muslim, No. 852.

33. MENGIRINGI SHALAT FARDHU DENGAN SHALAT SUNNAT RAWATIB
“Tiada seorang hamba muslim shalat karena Allah setiap hari 12 rakaat sebagai shalat sunnat selain shalat fardhu, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga” HR. Muslim, No. 728.

34. SHALAT 2 (DUA) RAKAAT SETELAH MELAKUKAN DOSA
“Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia berwudhu` dengan sempurna kemudian berdiri melakukan shalat 2 rakaat, lalu memohon ampunan Allah, melainkan Allah mengampuninya” HR. Abu Daud, No.1521.

35. SHALAT MALAM
“Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam”
HR. Muslim, No. 1163.

36. SHALAT DHUHA
“Setiap persendian dari salah seorang di antara kalian pada setiap paginya memiliki kewajiban sedekah, sedangkan setiap tasbih itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, setiap takbir itu sedekah, memerintahkan kepada yang makruf itu sedekah dan mencegah dari yang mungkar itu sedekah, tetapi semuanya itu dapat terpenuhi dengan melakukan shalat 2 rakaat dhuha” HR. Muslim, No. 720.

37. SHALAWAT KEPADA NABI SAW
“Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah membalas shalawatnya itu sebanyak 10 kali” HR. Muslim, No. 384
.
38. PUASA
“Tiada seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkannya karena puasa itu dari neraka selama 70 tahun” HR. Bukhari, Juz. VI/No. 35
.
39. PUASA 3 (TIGA) HARI PADA SETIAP BULAN
“Puasa 3 (tiga) hari pada setiap bulan merupakan puasa sepanjang masa”
HR. Bukhari, Juz. IV/No. 192 dan HR. Muslim, No. 1159.

40. PUASA 6 (ENAM) HARI PADA BULAN SYAWAL
“Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka hal itu seperti puasa sepanjang masa”
HR. Muslim, 1164.

41. PUASA `ARAFAT
“Puasa pada hari `Arafat (9 Dzulhijjah) dapat melebur (dosa-dosa) tahun yang lalu dan yang akan datang” HR. Muslim, No. 1162.

42. PUASA `ASYURA
“Dan dengan puasa hari `Asyura (10 Muharram) saya berharap kepada Allah dapat melebur dosa-dosa setahun sebelumnya” HR. Muslim,No. 1162.

43. MEMBERI HIDANGAN BERBUKA BAGI ORANG YANG BERPUASA
“Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa itu, dengan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun” HR. Tirmidzi, No. 807.

44. SHALAT DI MALAM LAILATUL QADR
“Barangsiapa mendirikan shalat di (malam) Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”HR. Bukhari Juz. IV/No. 221 dan HR. Muslim, No. 1165.

45. SEDEKAH
“Sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api”
HR. Tirmidzi, No. 2616.

46. HAJI DAN UMRAH
“Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) yang terjadi di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga” HR. Muslim, No. 1349.

47. BERAMAL SHALIH PADA 10 HARI BULAN DZULHIJJAH
“Tiada hari-hari, beramal shalih pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pada bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: “Dan tidak (pula) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: “Tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu apapun” HR. Bukhari, Juz. II/No. 381.

48. JIHAD DI JALAN ALLAH
“Bersiap siaga satu hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan tempat pecut salah seorang kalian di surga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya” HR. Bukhari, Juz. VI/No. 11.

49. INFAQ DI JALAN ALLAH
“Barangsiapa membantu persiapan orang yang berperang maka ia (termasuk) ikut berperang, dan barangsiapa membantu mengurusi keluarga orang yang berperang, maka iapun (juga) termasuk ikut berperang” HR. Bukhari, Juz.VI/No. 37 dan HR. Muslim, No. 1895.

50. MENSHALATI MAYIT DAN MENGIRINGI JENAZAH
“Barangsiapa ikut menyaksikan jenazah sampai dishalatkan maka ia memperoleh pahala satu qirat, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikubur maka baginya pahala dua qirat. Lalu dikatakan: “Apakah dua qirat itu?”, beliau menjawab: (Seperti dua gunung besar)” HR. Bukhari, Juz. III/No. 158.

51. MENJAGA LIDAH DAN KEMALUAN
“Siapa yang menjamin bagiku “sesuatu” antara dua dagunya dan dua selangkangannya, maka aku jamin baginya surga” HR. Bukhari, Juz. II/No. 264 dan HR. Muslim, No. 265.

52. KEUTAMAAN MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH DAN SUBHANALLAH WA BI HAMDIH
“Barangsiapa mengucapkan: (áǁEÅáåEÅáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåEáǁEÔóÑöíú߁Eáóåõ¡ áóåõ Çáúãõáú߁Eæóáóåõ ÇáúÍóãúρEæóåõæó Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁEÞóÏöíúсE) sehari seratus kali, maka baginya seperti memerdekakan 10 budak, dan dicatat baginya 100 kebaikan,dan dihapus darinya 100 kesalahan, serta doanya ini menjadi perisai baginya dari syaithan pada hari itu sampai sore. Dan tak seorangpun yang mampu menyamai hal itu, kecuali seseorang yang melakukannya lebih banyak darinya”. Dan beliau bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: ( ÓõÈúÍóÇäó Çááåö æóÈöÍóãúÏöåE) satu hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di lautan” HR. Bukhari, Juz. II/No. 168 dan HR. Muslim, No. 2691.

53. MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN
“Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang” HR. Muslim.

54. MENDIDIK DAN MENGAYOMI ANAK PEREMPUAN
“Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, di mana ia melindungi, menyayangi, dan menanggung beban kehidupannya maka ia pasti akan mendapatkan surga” HR. Ahmad dengan sanad yang baik.

55. BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN
“Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan maka orang itu mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga” HR. Bukhari.

56. MENINGGALKAN PERDEBATAN
“Aku adalah pemimpin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan padahal ia dapat memenangkannya”HR. Abu Daud.

57. MENGUNJUNGI SAUDARA-SAUDARA SEIMAN
(Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang para penghuni surga? Mereka berkata: “Tentu wahai Rasulullah”, maka beliau bersabda: “Nabi itu di surga, orang yang jujur di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya yang sangat jauh dan dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah maka ia di surga”) Hadits hasan, riwayat At-Thabrani.

58. KETAATAN SEORANG ISTRI TERHADAP SUAMINYA
“Apabila seorang perempuan menjaga shalatnya yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjaga kemaluannya serta menaati suaminya maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki” HR. Ibnu Hibban, hadits shahih.

59. TIDAK MEMINTA-MINTA KEPADA ORANG LAIN
“Barangsiapa yang menjamin dirinya kepadaku untuk tidak meminta-minta apapun kepada manusia maka aku akan jamin ia masuk surga” Hadits shahih, riwayat Ahlus Sunan.
60. 10 TERAKHIR ROMADHON
10 terakhir bulan romadhon itulah Pembebasan dari siksa api neraka. layaklah kita sebagai umat Muhammad merebutnya dengan memperbanyak membaca Istighfar dan Membaca Selamat kepada Baginda Rosulillah.
semoga kita semua bisa mengamini dan melaksanakan dengan rasa Iman dan Iklas, maka niscaya akan diampuni dosa-dosa yang masa lalu dan yang akan datang ? semoga kita semua tergolong orang-orang Muchlisin seperti yg dijandikan oleh Alloh dalam KalamNya. Al Qur’an

Iklan

AGAR KITA TAHU JATIDIRI KITA
DAN BISA MEMAKNAI HIDUP DENGAN HATI YANG JERNIH
“Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan ?”
(QS. Az-Zariyat : 21)

Diri Manusia

Alqur’an telah banyak menyibak tentang apa dan siapa manusia sebenarnya. Namun ungkapan ini tidak akan menjadi suatu kesadaran apabila perasaan jiwa tidak pernah dibawa ke alamnya secara nyata. Atau dengan kata lain kita tidak mau menilik yang mana diri kita sesungguhnya. Bukan dengan teori-teori tasawuf atau psikologi yang sulit dimengerti yang kita butuhkan. Melainkan dimulai dengan yang sangat sederhana. Adalah seorang bayi yang lahir dengan proses alami. Ia lahir bukan karena permintaan atau kehendaknya. Ia tidak mengerti untuk apa dilahirkan. Ia tidak punya apa-apa bahkan telanjang dan malupun tidak punya. Lantas sekelilingnya memberikan kesadaran secara bertahap. Mulai dari pemberian nama, identitas kelamin dan batasan kesadaran yang sangat sempit. Ia dikenalkan dengan dirinya bahwa namanya si Anu dan jenis kelaminnya laki-laki. Diajarkannya pula nama-nama anggota tubuhnya, ini kepala ada mata, telinga, hidung, mulut, ini tangan dan seterusnya. Kesadaran ini membuat terikat kepada sebatas apa yang ia terima dan ketahui. Sehingga sang diri terbelenggu dan tersesat dalam ketidaktahuan siapa yang sebenarnya diri ini. Ada sebuah ungkapan “barang siapa mencintai sesuatu maka ia akan menjadi hambanya”. Dalam tembang ilir-ilir Kanjeng Sunan Ampel Rahmatullah, dodot atau pakaian adalah sesuatu yang menimbulkan ikatan pada jiwa seseorang. Menurut filsafat, pakaian adalah sesuatu yang menempel mengikat (binding) dalam jiwa manusia. Jika manusia melakukan sikap yang binding dengan dunia sekelilingnya, jiwanya akan terkungkung dan kesadarannya akan terbelenggu. Oleh karena itu dalam hidupnya manusia harus selalu berusaha melakukan unbinding terhadap dunia sekitarnya. Maksudnya manusia harus mulai menyadari keterbatasan dirinya dimana selama ini kita “dijerumuskan” oleh pengetahuan yang kita dapat, bahwa diri ini hanya sebatas pada mata, telinga, tangan, kaki serta anggota tubuh lain yang kelihatan. Mari kita perhatikan tentang apa sebenarnya tubuh ini, diri ini. Mengenal Diri. Dalam bertauhid pembahasan tentang hati merupakan agenda utama. Tujuannya agar bisa menghubungkan diri kepada Allah. Untuk itu perlu penyelarasan dari ilmu tauhid dan syariat yang sebelumnya (oleh kebanyakan orang) telah dipelajari. Dalam sebuah kata-kata hikmah (bagi sebagian ulama ini dikatakan sebagai hadits dari Rasulullah SAW), bahwa : “Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Rabbahu”, artinya : “Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka ia akan mengenal Tuhannya”. Begitu pentingnya mengenal diri karena pengenalan terhadap diri merupakan syarat mutlak untuk dapat mengenal Allah yang merupakan awalnya beragama. Salah satu Sahabat yang kualitas batinnya terdidik langsung Rasulullah SAW, Imam Ali r.a. Tajjul Arifin (Mahkota Ilmu) mengatakan bahwa : “Awwaluddin Ma’rifatullah”, artinya : “Awal dari agama adalah mengenal Allah”. Bukan mengenal langit, bumi, bintang, jagat raya, alam semesta seisinya. Bukan mengenal ciptaan Allah tetapi mengenal Yang menciptakan. Bukan mengenal tanda-tanda kebesaran Allah, tetapi Yang punya tanda. Untuk dapat mengenal Allah kita harus mengenal diri (An-Nafs) terlebih dahulu. Dari sini akan dapat diketahui esensi diri yang sebenarnya dan merupakan awal dari seseorang beragama dengan haq. Pengenalan kepada diri merupakan kunci untuk mengenal Tuhan, bahkan tujuan pengetahuan itu sendiri adalah untuk mengenal diri. Diri manusia dapat dilihat secara inderawi dengan perilaku dan perangainya. Dari seseorang berperilaku, seseorang berperangai, merupakan cerminan dari hatinya. Sehingga untuk mengenal diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal hati (qalb). Kebanyakan manusia sering tidak menyadari realitas dirinya sendiri. Ia memandang tubuh fisiknya sebagai esensi dari dirinya sendiri dan lupa pada sifat abstrak dari hati spiritual. Manusia terlalu disibukkan dengan memberi makanan pada tubuh fisiknya untuk memenuhi hasrat-hasrat inderawinya, padahal sesungguhnya di tempat inilah ia harus menyiapkan bekal untuk hari akhir kelak.
Yang dimaksud hati dalam hubungannya hubungannya dengan Sang Pencipta adalah hati ruhaniah. Hati jenis inilah yang merasa, mengetahui serta mengenal. Disebut pula hati latifah (yang halus) atau hati Robbaniyyah karena ia berhubungan dengan sifat-sifat ketuhanan.

Hati inilah yang merupakan tempat untuk mengenal Allah (ma’rifatullah) agar dapat beriman kepada Allah. Ma’rifat yang merupakan ilmu pengenalan terhadap Allah, tidak mungkin dapat dilakukan jika kita tidak mengenal hati dan tidak mengetahui dimana letak hati (qalb). Dalam literatur barat sendiri penggunaan istilah-istilah seperti heart, soul, spirit, mind, dan intellect sering campur aduk ketika berbicara mengenai persoalan-persoalan yang berhubungan dengan konsep jiwa. “… Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu …” (QS. 49:7)
“…karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, …”. (QS. 49:14)
“…Mereka itulah orang-orang dimana Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka…”(QS.58:22)
Bahkan lebih dari itu, dalam hadits Qudsi dikatakan: “…Tidak akan cukup untuk-Ku bumi dan langit, tetapi yang cukup menampung-KU hanyalah hati (qalb) hamba-Ku yang mukmin”….
Maka dengan hatilah, seseorang dapat merasakan iman, dengan hatilah seorang hamba dapat mengenal Rabb-nya. Hati yang halus itulah hakikat manusia yang dapat menangkap segala rasa, dan ia mengetahui serta mengenal segala sesuatu. Hati inilah yang jadi sasaran pembicaraan, yang akan disiksa, dicerca dan dituntut. Karena eratnya hubungan antara hati jasmani dan hati rohani itu, sehingga kebanyakan akal manusia menjadi bingung untuk membedakannya. Hubungan kedua hati itu seperti halnya sifat dengan jisim yang disifati, atau seperti benda yang dijadikan perkakas dengan sifat perkakasnya.
Seseorang tidak mudah untuk mengatakan bahwa dia telah beriman sebelum mengetahui ilmu tentang hati. Sebagaimana pengakuan orang Arab yang mengatakan bahwa dirinya telah beriman tetapi langsung dibantah oleh Allah SWT. “Orang-orang Arab Baduwi itu berkata : “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka) : “kamu belum beriman, tetapi katakanlah “kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasulnya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun amalanmu..” (QS. Al-Ahzab : 14). Hatilah yang diterima disisi Allah, apabila ia selamat atau terhindar dari hal-hal selain Allah dan sebaliknya, ia pula yang terhijab atau terdinding dari Allah, apabila ia tenggelam dalam-hal-hal selain Allah. Hatilah yang akan dituntut, dijadikan sasaran pembicaraan dan cercaan dan ia pula yang berbahagia dengan mendekat kepada Allah. Akan menanglah orang yang mensucikan hatinya dan sebaliknya ia akan kecewa dan celaka jika ia mengotori serta merusak hatinya.
Mengapa Hati Harus Dibersihkan “Sungguh akan memperoleh kemenangan (beruntunglah) orang-orang yang membersihkan (hati) nya dan merugilah orang-orang yang mengotorinya” (QS.Asy Syamsi : 9-10). “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih,…” (QS. Al-Baqarah : 10)
Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya syaitan mengalir dalam diri manusia melalui urat-urat darahnya, dan mendirikan markasnya dalam dada manusia”. Juga sabdanya :
”Sesungguhnya di dalam tubuh anak adam itu terdapat segumpal daging, yang apabila bersih ia maka akan bersihlah semuanya dan apabila rusak (kotor) ia maka rusaklah semuanya”, kemudian para sahabat bertanya ”Apakah itu ya Rasulullah? ketahuilah bahwasanya ia itulah hati”. Dalam hadist ini Rasulullah menekankan betapa pentingnya untuk selalu berusaha membersihkan hati, membersihkan hati bermakna menghapus darinya kecintaan pada dunia dan hal-hal duniawi serta menghilangkan daripadanya segenap kesedihan, kedukaan, kekhawatiran, kecemasan, dan takut atas segala sesuatu yang tidak berguna. Dalam kaitan hati ini para ulama berpandangan bahwasanya semakin manusia tenggelam dalam berbagi urusan duniawi dan sibuk dengan berbagai hal-hal materiil maka ia semakin beroleh banyak kesulitan dan akan bertambah pula beban yang ditanggungnya. Semakin ia memanjakan badannya dengan dan terus-menerus memperhatikan penampilannya maka keadaan mentalnya akan semakin memburuk, kemampuan spiritualnya akan semakin memudar, kesucian dan kecemerlangan hatinya kehilangan semangat, noda dan kegelapan pun semakin bertambah. Inilah sebabnya mensucikan hati dari pengaruh duniawi dan menerapkan pola hidup zuhud menjadi salah satu syarat yang mesti dipenuhi. Menjauhkan diri dari segala sesuatu selain Allah adalah salah satu jalan/cara untuk menuju Allah. Pengertian menjauhkan diri dari segala sesuatu selain Allah bukanlah berarti seseorang itu meninggalkan kehidupan duniawinya, tetapi bagaimana seseorang itu tidak menaruh duniawi dalam hatinya melainkan dalam tangannya.

Syekh Abdul Qodir Jailani menjelaskan dalam kitab “Al-fath Rabbany” hal. 90:
“Mensucikan hati sehingga tidak ada sesuatu di dalam hati itu melainkan Allah”. Seseorang yang menaruh dunia dalam hatinya ketika kehilangan hal-hal duniawi akan goncanglah jiwanya dan semakin terpuruklah keadaannya seolah-olah dunia sudah berakhir, tapi seseorang yang menaruhnya dalam genggaman tangannya tatkala kehilangan pun ia akan lebih bisa memahami bahwasannya di alam dunia itu tidak akan kekal dan akan timbul satu sikap optimis bahwa dia akan mampu untuk meraihnya kembali. Tujuan pembersihan hati adalah untuk melatih jiwa agar dapat masuk dalam dimensi Ketuhanan yang Maha Latif (halus). Indah tidaknya pandangan batin seseorang akan sangat tergantung dari sejauh mana ia mampu membersihkan hatinya. Hati adalah makhluk Allah yang paling jujur dan sebagai tempat untuk dapat berhubungan kepada Allah. Dan Allah tidak melihat perbuatan kita, juga amal kita, tetapi yang pertama-tama dilihat dan diperiksa oleh Allah adalah hati kita, apakah ada ilmunya atau tidak.
Hatilah yang pada hakekatnya ta’at kepada Allah Ta’ala, sedangkan ibadah yang dikerjakan oleh anggota badan itu adalah penjelmaan dari cahaya hati. Sebaliknya hati pulalah yang ingkar dan durhaka kepada Allah Ta’ala, sedangkan kejahatan-kejahatan yang terjadi pada anggota badan itu merupakan pantulan sinar gelap yang ada di dalam hati.
Jadi dengan bersinarnya hati akan muncul kebaikan-kebaikan lahiriah dan dengan gelapnya hati akan muncul pula kejahatan-kejahatan, sebab tiap-tiap bejana (tempat) itu terkena percikan dengan apa-apa yang ada di dalamnya. Hati adalah bagaikan sebuah cermin yang telah diliputi oleh hal-hal yang membekas dan bekas itu secara bersambung akan sampai kepada hati, adapun bekas-bekas yang terpuji akan membuat cermin hati semakin mengkilap cemerlang, bercahaya dan terang-benderang sehingga berkilauanlah kebenaran yang nyata di dalam hati dan terbukalah hakikat segala sesuatu yang dituntut oleh agama.
Kepada hati semacam inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW :
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka Allah akan menjadikan untuknya penasihat dari hatinya” (HR.Abu Manshur ad-dailami dengan sanad yang baik).
Sabdanya lagi : “Barang siapa yang mempunyai penasihat dari hatinya maka Allah akan memeliharanya”.
Bagaimana kalau hati tidak dibersihkan? Allah mengancam dalam Al-qur’an : “Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekufuran mereka, dan mereka mati dalam keadaan kufur”. (QS. At.Taubah : 125). Dimana Letak Hati ? Betapa pentingnya kita membersihkan hati. Ikhlas, iman, dan taqwa adalah efek yang timbul jikalau hati seseorang itu bersih dan sebaliknya iri, dengki, hasad, ria, dsb timbul jikalau hati seseorang itu kotor. Untuk itu hati harus senantiasa dibersihkan sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Walaupun berbagai kalangan telah banyak menyampaikan mengenai soal hati atau Qalbu tetapi pernahkah kita sadari bahwa sebenarnya hanya berputar dalam teori hati, dalam arti kita hanya mempelajari efek dari bersih dan kotornya hati, tetapi tidak pernah kita mengetahui dimana sesungguhnya letak hati itu dan bagaimana cara untuk membersihkannya? Apakah mungkin kita dapat membersihkan sesuatu jikalau kita tidak mengetahui dimana letak sesuatu itu dan bagaimana cara membersihkannya?
Bagaimana Membersihkan Hati Nabi SAW bersabda : “Segala sesuatu ada pembersihnya, dan alat pembersih hati adalah berzikir kepada Allah”.
Perumpamaan iman di dalam hati itu adalah seperti sayur-sayuran yang tumbuh subur karena air yang bersih sedangkan perumpamaan nifak di dalam hati itu adalah seperti luka yang menjalar karena nanah. Maka dimana di antara kedua hal tadi yang menang maka itulah yang akan menguasai hati seperti sabda Nabi SAW :
”Hati orang mukmin itu bersih di dalamnya ada lampu yang bersinar dan hati orang kafir itu hitam dan terbalik ”(HR. Ahmad & Thabrani). Dan perumpamaan air bagi sayuran tadi (hati) adalah zikir kepada Allah. Jalan untuk dapat mencapai kebersihan hati seperti di atas adalah dengan banyak-banyak mengingat Allah (zikrullah). “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allalah hati itu dapat menjadi tenang (bersih)” (QS.Ar-Ra’d : 28). “Ingatlah Tuhanmu di dalam hatimu” (QS.Al-A’raf:204). “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah” (QS.Al-Hadiid : 16). Bahkan mengingat Allah dalam hati (khofi) akan memperoleh pahala yang lebih besar daripada mengingat Allah dengan lidah, seperti sabda Rasulullah SAW : “Zikir yang paling baik adalah zikir khofi (dalam hati)” (HR.Baihaqi). Hati dan Akal. Di dalam Al-qur’an dijelaskan bahwa hati adalah salah satu alat untuk berfikir (aql), karena aql mengandung arti mengerti, memahami, dan berfikir. “Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi lalu mereka mempunyai qalb (hati) yang dengan itu mereka dapat memahami atau telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta tetapi hati yang ada di dalam dada” (QS.Al-Hajj :46). “Dan sesungguhnya kami jadikan isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qalb (hati) tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah)” (QS.Al-A’raf:179). Menurut Al-Qusyairi perbedaan hati dan akal yaitu akal tidak dapat memperoleh pengetahuan yang sebenar-benarnya tentang Tuhan. Sabda Rasulullah SAW : “Janganlah berpikir (menggunakan akal) dalam Dzatullah tetapi berpikirlah kepada ciptaannya” Disini Rasul sudah menjelaskan bahwa akal itu mempunyai keterbatasan di dalam mengenal Tuhan dan ia (akal) tidak akan sampai kepada pengenalan yang sesungguhnya terhadap Tuhan. Mengenai hal ini secara nyata kita dapat belajar dari i’tibar Nabi Ibrahim AS yang mencoba mencari dan mengenal Tuhan melalui akal dengan memperhatikan alam semesta dan benda-benda ciptaan Tuhan. Nabi Ibrahim memperhatikan jagat raya, matahari, bintang, langit dan seisinya sebagai ciptaan Tuhan. Usaha keras tersebut ternyata sia-sia karena Ibrahim AS tidak menemukan dimana Tuhan. Oleh karena itu melalui hatilah dapat diketahui dan dikenal segala hakikat yang ada. “Tiadalah berdusta apa-apa yang dilihat oleh hati” (QS. An-Najm : 11).
Sabda Rasulullah SAW : “Andaikata setan-setan itu tidak menutupi lensa batin anak Adam, niscaya mereka dapat melihat kepada Alam Malakut yang ada di langit” (HR. Ahmad) Niat di Dalam Hati Suatu ibadah tidak akan sah tanpa niat di dalam hati. Rasulullah SAW bersabda : “Setiap amalan itu di mulai (dinilai) dari niat dan niat itu ada di dalam hati”. Para imam mujtahid sepakat bahwasanya aktivitas raga tidak akan diterima tanpa disertai aktivitas hati, sedangkan aktivitas hati tetap akan dinilai (diterima) meskipun tanpa aktivitas raga. Andaikata tidak demikian adanya maka iman juga tidak akan diterima karena fardhu iman ialah diucapkan dengan lidah dan dibenarkan dengan hati.
“Allah mencatat keimanan di dalam hati mereka”. (QS.Al-Mujadalah : 22)
“Mereka itu adalah orang-orang yang dicoba hatinya oleh Allah untuk takwa” (QS.Al-hujurat:3).
Di dalam sebuah hadist Rasulullah SAW pernah ditanya:
“Ya Rasulullah! siapakah orang yang terbaik itu? maka beliau menjawab : yaitu orang mukmin yang bersih hatinya, maka ditanyakan lagi : apakah artinya orang yang bersih hatinya itu wahai Rasulullah? beliau lalu menjawab : ialah orang yang takwa, bersih tidak ada kepalsuan padanya, tak ada kedurhakaan, pengkhianatan, dendam dan kedengkian”. (HR.Ibnu Majah) Dan Sabdanya lagi : “Ilmu itu letaknya di dalam dada (hati) bukan pada tulisan”.
hati sebagai pengendali manusia untuk menuju fitrohnya.
dengan Bekal ini Insya’alloh kita semua bisa mengerti dan memahami serta mampu melaksanakannya walaupun tidak seratus persen (100%) karena saya pribadi bukan orang Suffi, masih saja melenceng dari garis fitrohnya. Tapi yang terpenting berusaha dan berusaha untuk mencapai itu ?
SEMOGA ALLOH SELALU MEMBIMBING HATI KITA SEMUA