Januari 2013


Kita semabagai Umat Muchammad. S.A.W akan celaka Bila tidak bisa Melihat Nabi Muhammad S.A.W secara nyata maupun dalam mimpi, jika paling sedikit membaca, mendengar atau menghafal tentang sikap dan prilaku Nabi, sehingga pada akhir kita gemar dan CINTA kepada alloh dan Rosulnya  dari pada melebihi Harta, Anak dan lainnya.

Rencana Nabi s.a w. Tentang PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN

Perhatian Nabi saw. akan perumahan dan tempat tinggal rakyat yang layak dan sehat terbukti dari pengetahuan beliau yang luas dan rencananya yang teliti didasarkan atas kepentingan bersama, serta lancarnya lalu lintas orang banyak maupun kendaraan, disamping hak bertetangga yang tidak boleh diabaikan dan kehormatan tempat ibadah. demikian juga faktor kesehatan sangat diutamakan dan lokasi tempat tinggal dimana bangunan akan didirikan.

Ibnu Sa’ad dalam kitabnya Atthobagat meriwayatkan bahwa tatkala Nabi saw merencanakan pembangunan perumahan di kota Madina, beliau sendiri merencanakannya (mendesaint) Gedung, rumah yang akan dibangun oleh Usman. beliau keluar menuju sebidang tanah yang luas dan menunjukkan letak bagian-bagian penting dari rumah yang akan di bangun itu.

Abu Dawud meriwayatkan bahwa Nabi perna mengutus seorang menyampaikan kepada perajurit dimedan perang, bahwa siapa saja yang mempersempat rumah tempat tinggalnya atau mengambil sebagian  tanah dari jalan umum, maka berjihad tidak perlu baginya.  Konon penduduk kala itu sudah mulai padat, dan rumah-rumah liar telah dibangun orang, hingga lorong menjadi sempit dan lalu-lalang karenanya terhambat

Ibnu Mjah dan Attabrani, meriwayatkannya tentang pembangunan yang langsung diawasi oleh Nabi saw sendiri. beliaulah yang memilih lokasinya sendiri, dan setelah selesai dilihatnya dan dengan rasa puas berkata. INILAH PASAR kalian, lalu ia memerintahkan agar pasar itu dipeliharanya dan diramaikannya, setelah datang melihat pasar baru, beliaau terlebih dahulu mendatangi pasar lama, dan berkata kepada penghuninya INI BUKAN PASARMU lagi sekarang.

itulah Akhlag Rosul dalam membangun Pasar dan perekonomian kota Madina dan Mekka, tidak main gusur dan tidak maupun tancam bangunan. kita lihat Ibu Kota Indonesia saja Kebanjiran apalagi bukan Ibu kota. so pasti kebanjiran juga. penyebabnya tidak adanya koordinasi dan kepedulian terhadap lingkungan. sehingga lingkungannya MURKA jangan salahkan hujannya. salah pribadi Pejabat dan Rakyatnya yang tidak mengindahkan pada Akhlaq Rosulullah saw.

 

Iklan

Andakata sistem cara PEMILIHAN kepala Dearah Wali Kota, Bupati, Gubernur dan Presiden menggunakan cara yang di ANUT Nabi Muchammad SAW niscaya Masyarakat/rakyat tidak ada miskin, sengsara dan kelaparan seperti saat ini. coba kita tengok kembali gimana kesempurnaan akal fikiran Nabi dalam memilih utusan / wakil dalam menjalankan tugas khusus. yaitu  Alaa’ Bin Hadramiy yang diutus Nabi, kepada Raja Munzir bin Sawaa, membawa sepucuk surat beliau dalam dialog dengan raja tsb antara lain berkata.  Wahai Munzir anda adalah seorang besar, tentu besar pula dalam berfikir, maka janganlah menjadi kecil di kampung akherat kelak, agama Majusi yang anda peluk tidak membawa kehormatan bagi bangsa arab seperti juga tidak dikenal oleh ahli Kitab, sedang penganut-penganutnya melakukan perkawinan, dengan cara yang rasanya malu untuk disebutkan disini, dan mereka makan yang tak layak untuk dimakan, serta menyembah api yang akan membakar hangus diri mereka dihari Qiamat, dan anda bukan seorang yang tidak berakal , maka renungkanlah, apakah seorang yang tak perna berdusta di dunia ini, tak pernah berkhianat, dan tak perna ingkar janji, adakah seorang yang demiian itu harus tidak dipercaya ? maka dialah seorang Nabi yang Ummi, dan demi Allah tak seorangpun yang berakal , dapat berkata bahwa apa yang dilarangnya itulah yang diperintahkan dan apa yang diperintahkan olehnya, itulah yang dilarang, bahwa segala apa yang datang dari padanya, benar-benar sejalan dengan apa yang didambahkan, oleh seorang ahli fikir yang berpandangan jauh.  Kemudian Munzir berkata “setelah aku berfikir tentang agamaku ini aama Majusi, maka aku dapati bahwa agama itu hanya untuk dunia semata, bukan untuk akherat, dan setelah aku berfikir tentang agama anda, maka aku berkesimpulan bahwa agama itu untuk dunia akherat, maka apakah gerangan yang menghalangi diriku menerima suatu agama, yang menjadi harapan dalam kehidupan ini, dan kesenangan setelah mati, dahulu aaku merasa heran memang kepada yang menerima baik agama itu, tapi kini sebaliknya aku sangat heran bagi yang menolaknya, dan dalam rangka menghormati apa yang dibawa oleh Nabi itu, maka utusan pribadinya yang dikirim kemari harus dihormati, dan saya masih akan melihat perkembangan lebih jauh. demikian raja Almunzir mengakhiri pembicaraannya.

Jelas dan gamblang andaikata semua Pemimpin daerah, wali kota, bupati, Gubernur dan Presiden semua berfikir bahwa jabatan yang mereka emban/pkul adalah amanah dan harus dipertanggungjawabkan kelak, niscaya mereka akan BERSUNGGUH-SUNGGUH memikul amanah itu, karena jabatan adalah jembatan di dunia untuk mencapai akherat sedangkan agama adalah Motivasi hidup di dunia untuk Jalan lurus menuju akherat. sedangkan Ulama adalah peliti (sinar) yang selalu menghiasi dan memberikan FATWA /pitutur jika dalam mengemban amanah itu adalah yang melenceng/salah sasaran menuju jalan akherat.  itulah perlunya PERPADUAN yang HARMONIS antara Ulama dan Umaro’

Mari kita renung lebih dalam bagi “PEMEGANG JABATAN”

TENTANG AKAL FIKIRAN NABI

Akal yang sempurna adalah pokok pangkal segala sifat yang terpuji dan pendorong kepada tingkahhlaku dan tabiat yang terarah. dengan petunjuk akal dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik ? serta membawa seseorang mencapai sesuatu yang lebih sempurna.  sebagaimana masuknya Cholid Bin Walid dalam agama Islam setelah mengucapa dua Kalimat Sahadat ia berkata Yaa Rosulullah, aku menyaksikan bahwa tidak Tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusannya, lalu nabi mempersilahkannya masuk dan duduk, kemudian Nabi berkata kepadanya  :  segala puji Allah yang telah memberikan petunjuk kepadamu, memang aku melihat engkau seorang yang berakal sehat, maka kuharap kiranya akal itu tidak akan membawamu melainkan kepada segala yang baik.

dan bahwa akal fikiran Nabi SAW telah mencapai  puncak kesempurnaan yang tidakk perna dicapai oleh siapapun  dimuka bumi ini sebagai ni’mat karunia Allah kepadanya hal itu telah ditegaskan oleh Allah dalam firmannya “Engkau wahaiRasulullah, akal fikiranmu berada ditingkat yang tertinggi, yang tuhan bersumpah dengan NUN, yang berarti limpahan kaarunia Illahi dan bersumpah dengan Alqalam, pena yang berada di alam tertinggi dan perna suaranya di dengar oleh Nabi SWA, tatkala menuliskan segala sesuatu yang ada, yang sedang dan yang  akan terjadi. Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk yang agung itu untuk menegaskan luas dan  cerdas akal fikiran Nabi SAW dan bahwa beliau jauh dari pada sifat hilang atau kekurangan akal.

Waheb Bin Munnabbih, seorang Tabi’in dan dari padanya Albukhori dan Muslim juga menerima riwayat beberapa Hadist bahwa ia berkata : Aku telah membaca tujuh puluh satu (71) kitab, yang diturunkan Allah dahulu kepada para Nabinya, dan semuanya, aku dapati, dan bahwa perbandingan akal fikiran Muchammad SAW ibarat sebutir pasir dibandingkan dengan pasir-pasir yang ada didunia ini

Dan kesempurnaan akal Fikiran  Nabi tanpak juga dalam mengambil sesuatu keputusan  secara tepat, akurat dan bijaksana seperti yang terjadi ketika sukur Quraisy terlibat dalam pertentangan dan silang sengketa, tentang siapakah yang berhak meletakkan Batu Hajjar Aswat ketempatnya semula di Ka’bah Baitulloh. Kisahnya sebagai berikut ” setelah sukur Quraisy, selesai memugar Ka’bah maka timbullah perselisihan siapakah gerangan yang paling mustahaq mengembalikan Hajjar Aswad ke tempatnya semula ?  setiap kabila dan kelompok sama menginginkannya, karena hal itu dipandang sebagai penghormatan dan kemulyaan yang tiada tara nilainya, sehingga terjadi berdebatan yang luar biasa suasana sudah sedemikian panasnya, dan mengarah kepada pertumpahan darah dan perang saudara. hal ini terjadi selama 4 – 5 hari, kemudian bermusyawarah untuk mencapai mufakat dan bersepakat bulat memutuskan : bahwa siapapun yang datang bertama kali dan masuk masjid hari itu dialah yang akan diserahi, untuk memutuskan perkara yang pelik itu, dan semuanya sama berikrardan berjanji akan mematuhi keputusan itu, secara kebutulah Nabi SAW lah yang pertama kali datang dan memasuki masjid pada hari itu, maka semua merasa gembira dan serentak berkata : Tepat sekali dialah seorang yang jujur (Al – amien), kita semua menerima dengan senang hati , segala keputusan yang akan diambilnya, maka Nabi mengambil sehelai serban yang dibentangkan dan meminta agar tiap kepala Kabila , memegang ujung serban yang telah terbentang itu, dimana Batu Hajjar Aswad sudah ditetakkan disana, kemudian serban itu diangkat bersama-sama , setelah sampai dekat tempatnya semula, maka beliau sendiri yang meletakkannya, dengan keputusan yang adil dan bijaksana, maka kemelut yang nyaris membawa perang saudara dapat diselesaikan, memutuskan semua pihak yang berselisih dan diterima dengan perasaan lega.

Image

Dari Abu Qatadah Al Anshari ra., katanya Rasulullah saw. ditanya orang tentang puasa hari ‘Arafah. Jawab beliau, “Semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu dan yang akan datang.” Kemudian beliau ditanya pula tentang puasa hari ‘asyura. Jawab beliau, “Semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu.” (HR Muslim Bab 14 no 95)

Dari ‘Aisyah ra., katanya: “Dizaman jahiliyah, orang-orang Quraisy melakukan puasa pada hari ‘Asyura, dan rasulullah saw. pernah pula mempuasakannya. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau mempuasakannya bahkan memerintahkan supaya umatnya mempuasakannya pula. Maka tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau bersabda, “Siapa yang suka puasa di hari ‘Asyura silahkan, dan siap yang tidak suka, tidak mengapa.” (HR Muslim Bab 14 no 56)

 

Dari ‘Abdullah Ibnu ‘Umar ra., katanya: “Kaum Jahiliyah puasa padahari ‘Asyura. Sedangkan Rasulullah saw. dan kaum muslimin pernah juga mempuasakannya sebelum perintah wajib puasa Ramadhan diturunkan. Maka ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya hari ‘Asyura itu suatu hari diantara hari-hari kebesaran Allah. Karena itu siapa yang puasa hari itu silahkan dan siapa yang tidak mau, boleh meninggalkannya.” (HR Muslim Bab 14 no 57)

 

Dari Abdurrahman Ibnu Yazaid ra., dia menceritakan bahwa Asy’ab bin Qais ra., pernah datang ke rumah ‘Abdullah ketika dia sedang makan. Lalu kata ‘Abdullah, “Ya, Abu Muhammad! Mari silahkan makan!” Jawab Asy’ats, “Bukankah hari ini hari ‘Asyura?” Jawab Abdullah, “Tahukah engkau, apakah hari ‘Asyura itu?” Kemudian dia melanjutkan, “Hari ‘Asyura ialah suatu hari dimana Rasulullah saw. pernah puasa sebelum perintah wajib puasa Ramadhan diturunkan. Tatkala kewajibn puasa Ramadhan telah turun, maka puasa ‘Asyura ditinggalkan beliau.”(HR Muslim Bab 14 no 58)

 

Dari Jabir bin Samurah ra., katanya: “Rasulullah saw. menyuruh kami puasa pada hari ‘asyura, dan beliau mendorong kami serta memperhatikan kami melaksanakannya. Tetapi ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, kami tidak lagi disuruh beliau, tetapi tidak pula dilarang dan tidak lagi diperhatikannya apakah kami puasa atau tidak.” (HR Muslim Bab 14 no 59)

 

Dari Ibnu ‘Abbas ra., katanya: “Ketika Rasulullah saw. belum lama tiba di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi puasa pada hari ‘Asyura. Lalu mereka ditanya perihal itu (apa sebabnya mereka puasa pada hari itu). Jawab mereka, “Hari ini adalah hari kemenangan Musa dan Bani Israil atas Fir’aun. Karena itu kami puasa pada hari ini untuk menghormati Musa.” Maka bersabda Rasulullah saw., “Kami lebih pantas memuliakan Musa daripada kamu.” Lalu beliau perintahkan supaya kaum muslimin puasa pada hari ‘Asyura.” (HR Muslim Bab 14 no 60)

Dari Ibnu ‘Abbas ra., katanya: “Ketika Rasulullah saw. belum lama tiba di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi puasa pada hari ‘Asyura. Maka bertanya beliau kepada mereka, “Hari apakah ini, sehingga anda semua mempuasakannya?” Jawab mereka, “Hari ini hari besar, dimana Allah memenangkan Musa serta kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun serta kaumnya. Karena itu Musa puasa setiap hari ini untuk menyatakan syukur, lalu kami mempuasakannya pula.” Maka bersabda Rasulullah saw., “Kami lebih pantas dan lebih berhak memuliakan Musa daripada kamu semua.” Lalu Rasulullah saw. puasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan kaum muslimin puasa pada hari itu.” (HR Muslim Bab 14 no 61)

 

Dari Abu Musa ra., katanya: “Hari ‘Asyura adalah hari yang dimuliakan orang-orang yahudi dan dijadikannya hari raya. Maka bersabda Rasulullah saw., “Puasalah kamu di hari ‘Asyura itu.” (HR Muslim Bab 14 no 62)

 

Dari Abu Musa ra., katanya: “Penduduk Khaibar puasa pada hari ‘Asyura dan menjadikannya sebagai hari raya, dimana wanita-wanita mereka memakai perhiasan dan pakaian-pakaian yang indah pada hari itu. Lalu Rasulullah saw. bersabda., “Puasalah kamu (pada hari itu)!”(HR Muslim Bab 14 no 63)

 

Dari Ibnu Abbas ra., katanya dia ditanya orang tentang puasa hari ‘Asyura. Lalu jawabnya, “Aku tidak tahu kalau Rasulullah saw. mempuasakannya untuk mendapatkan keutamaannya atas seluruh hari, selain hari ini (‘Asyura) dan bulan ini (Ramadhan).” (HR Muslim Bab 14 no 64)

 

Dari Abdullah bin Abbas ra., dia menceritakan bahwa ketika Rasulullah saw. puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) dan memerintahkan kaum muslimin supaya puasa, para sahabat berkata, “hari ini adalah hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani.” Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Apabila masih menyaksikan tahun yang akan datang, insya Allah kita puasa pada tanggal sembilan Muharram.” Kata ‘Abdullah selanjutnya, “Ternyata tahun depan itu, beliau wafat.” (HR Muslim Bab 14 no 65)

Dari Salamah bin Akwa’ ra., dia menceritakan bahwa Rasulullah saw. mengutus seorang laki-laki suku Aslam pada hari ‘Asyura dan memeirntahkan kepadanya supaya mengumumkan kepada orang banyak: “Siapa yang belum puasa hari ini hendaklah dia puasa, dan siapa yang terlanjur makan, hendaklah dia puasa juga sejak
mendengar pengumuman itu sampai malam.” (HR Muslim Bab 14 no 66)

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afra’ ra., katanya: “Suatu pagi ‘Asyura, Rasulullah saw. memerintahkan petugas keperkampungan orang Anshar yang berada disekitar Madinah, untuk menyampaikan pengumuman: “Siapa yang puasa sejak pagi hari hendaklah disempurnakannya puasanya, dan siapa yang tidak puasa hendaklah dia puasa setelah mendengar pengumuman ini.” Semenjak itu kami puasa pada hari ‘Asyura, dan kami suruh anak-anak kecil kami, insya Allah. Kami bawa mereka ke mesjid
dan kami buatkan mereka main-mainan dari bulu. Apabila ada yang menangis minta makan, kami berikan setelah waktu berbuka tiba.” (HR Muslim Bab 14 no 67)

masih banyak lagi hal-hal Peristiwa  dalam bulan asyuro

1. Ruh Rosululloh dicipta oleh Alloh dalam bulan asyuro

2. Fir’un dikalahkan oleh Nabi Musa dalam bulan asyuro

3. Nabi Ayub sembuh dari penyakitnya dalam bulan asyuro

4. Mendaratnya Perahu Nabi Nuh dalam bulan asyuro

5.masih banyak kisah-kisah kemenangan NabiNya Alloh dalam bulan asyuro

 

MENGENAL NABI MUCHAMMAD SAW lebih DEKAT

Apakah Kita Telah Mengenal Nabi Kita ?

Apakah Kita benar-benar kenal Nabi Kita? Yaitu kenal secara lahir dan batinnya, jasmani, maknawi dan rohaninya Atau Kita hanya kenal secara lahir sahaja, tidak lebih daripada itu?! Atau Kita kenal secara ngasal saja?

 

Sebenarnya kalau Kita kenal secara lahir dan batin, jasmani, rohaniahnya pribadi Nabi Kita Pasti Kita jatuh hati kepadanya, Kita akan cinta, Kita akan menyebut selalu namanya

Melalui selawat dan ingatan terhadapnya, Kita akan terasa terhutang budi kepadanya

Karena kedatangannya dan jasanya kepada dunia

 

Muhammad SAW Nabi Kita…

Nabi Kita, Dia seorang manusia istimewa,

Luar biasa yang tiada taranya

Dia adalah manusia yang paling mulia di sisi Allah Taala

 

Mari kita bercerita tentangnya secara ringkas agar Kita kenal

Nabi Kita sendiri…

Siapa dia yang sebenarnya?

Dia adalah Muhammad anak Abdullah, ibunya Aminah

Bangsa Quraisy dari Bani Hasyim

Nasabnya hingga ke Nabi Ibrahim

 

Dia adalah anak yatim piatu..

Seorang anak yang tidak pernah dapat bermanja dengan ibu bapanya seperti orang lain

Dia lahir dari keluarga yang miskin dan dipelihara pula oleh keluarga yang miskin

 

Dia adalah makhluk yang pertama dan utama yang paling dicintai oleh Tuhan

Yaitu yang diberi nama Nur Muhammad

Dari Nur Muhammadlah seluruh yang ada dicipta dan diwujudkan

Syurga, Neraka, dunia, Akhirat, para malaikat, Arasy, Kursi, Sirat,

manusia, jin, hewan, jamadat dan lain-lainnya

 

Artinya kalau bukan karena Nabi Muhammad SAW,

Yang lain tidak akan diwujudkan

Karenanya itu Nabi kita membawa rahmat zahir dan batin

Kepada seluruh makhluk Tuhan

 

Dia adalah makhluk yang awal dari ruh diwujudkan,

sebagai Jasad akhir keturunan para Nabi

Dia adalah satu-satunya Nabi yang diisra’kan dan dimi’rajkan

Mukanya laksana bulan purnama karena cahayanya yang terang

Dia hamba Allah yang paling bertaqwa dan paling takut dengan Tuhan

Karena itulah dia dipanggil Habibullah oleh Allah

Ketua seluruh para Rasul dan para Nabi

Penghulu seluruh orang yang bertaqwa

Imam seluruh manusia

Syariatnya untuk seluruh jin dan manusia dan penutup seluruh syariat

Orang yang memberi syafa’atul kubra di Akhirat dan orang yang pertama

masuk Syurga

 

Al Quran kitab yang diturunkan kepadanya paling lengkap

Merupakan mukjizatnya yang kekal dan paling agung

Tiada siappuna yang dapat menirunya

 

Dia memiliki ilmu dunia dan Akhirat

Sekalipun dia tidak menulis dan membaca

Nabi kita mempunyai akhlak yang paling mulia dan tiada taranya

Bahkan lebih mulia dari para malaikat

Terutama kasih sayangnya kepada manusia begitu terasa

Tawadhu’nya ( rendah diri ) adalah pakaian pribadinya

Karena itulah dia sanggup duduk, makan, minum, tidur, baring dengan

fakir miskin, Menziarahi orang sakit, mengiringi jenazah

Tiada seorang pun yang melihat mukanya melainkan jatuh cinta kepadanya

Bahkan seperti orang mabuk tidak dapat melupakannya

Sangat kasih dan simpati dengan fakir miskin, anak-anak yatim dan

janda-janda

Pemurahnya laksana angin kencang yang sangat laju

 

Orang yang mampu bergaul dengannya berbagai macam strata

Adakalanya laksana ibu dan ayah

Adakalanya seperti kawan yang membela dan setia

Adakalanya terasakan bagai guru

Adakalanya sebagai pemimpin

Adakalanya bagaikan Panglima

Setiap orang yang satu majelis dengannya merasakan dapat layanan yang

memuaskan darinya

Akhlaknya yang tinggi membuat Tuhan memuji

Keberaniannya luar biasa

Dia berjalan seorang diri di hadapan musuh-musuhnya

Tidak sedikit pun takut dengan raja-raja

 

Setiap orang yang meminta tidak pernah dikecewakan, sekalipun

terpaksa berhutang dengan manusia

Ibadahnya banyak

Sembahyangnya hingga bengkak-bengkak kakinya karena terlalu

lama berdiri di hadapan Tuhannya

Tidak pernah mendoakan musuh-musuhnya dengan kejahatan

Sangat suka meminta maaf dan memberi maaf kepada siapa saja

Dia membalas kejahatan orang dengan kebaikan

Satu perbuatan yang luar biasa

Tidak pernah menghina, mencaci dan merendah-rendahkan orang lain

Sangat pemalu dan merendah diri

Sangat menerima alasan ijin seseorang

Sangat tahan menerima ujian dalam berbagai bentuk dan keadaan

Karena itulah dia dapat menjadi ketua Ulul Azmi para Rasul alaihimussolatuwassalam

 

Dia suka kepada seseorang karena Allah dan murka juga karena Allah

Hatinya selalu terjaga, matanya saja yang tidur tapi hatinya tidak tidur

Karena itulah dia tidur tidak membatalkan wudhunya

Di dalam hidupnya 74 kali terjadi peperangan, 27 kali dia ikut serta

tetapi tidak pernah membunuh musuh-musuhnya walaupun seorang

 

Karena menegakkan kebenaran, pernah dilempark dengan

najis,dilempar dengan batu hingga berdarah, diboikot selama

tiga tahun, dikepung, hendak dibunuh, berhijrah meninggalkan tanah

air dan mendapat berbagai kesusahan dan penderitaan

 

Kemuliannya di sisi Allah Ta’ala begitu ketara dan terasa

Hingg namanya disandingkan dengan nama Tuhannya

di dalam dua kalimah syahadah sebagai bukti syahnya Islam dengan mengucap namanya bersama dengan nama Tuhannya

 

Doa yang hendak dikabulkan, awal dan akhir ditutup dengan sholawat kepadanya

Doanya sangat terkabul, bahkan siapa yang berdoa bertawasul dengannya

lebih diterima doanya

Siapa yang banyak berselawat dengannya diberi syafaat di Akhirat

Siapa yang selalu menyebut namanya diturunkan rahmat dan berkat

 

Mukjizat-mukjizatnya yang banyak menunjukkan kebenarannya

Tertulis khatamun nubuwwah di belikatnya

Peluhnya bak mutiara, wanginya lebih wangi daripada kasturi

Orang tidak dapat menentang matanya karena kehebatan yang terpancar

di wajahnya, musuh-musuhnya pasti menundukkan pandangannya bila

menatapnya

 

Banyak perkara-perkara ghaib yang dibuka Allah Taala kepadanya

Sehingga sebagian perkara-perkara yang belum terjadi Seperti peristiwa akhir zaman dapat diceritakannya

 

Terlalu kuat tawakalnya kepada Allah Ta’ala

Hingga makanan yang berlebih tidak disimpan untuk malamnya

Bahkan diberikan kepada yang berhak

 

Apabila dia buang air, tidak ada kesan membuangnya

Lalat tidak pernah hinggap pada badannya

Kalau dia berpaling, dia berpaling dengan seluruh badannya

Tidak pernah makan seorang diri melainkan berkawan

Tidak pernah mencerca makanan

Kalau dia tidak suka, dia tidak makan-makanan itu

 

Sangat menghormati dan memuliakan tetamunya

Terlalu menjaga hak-hak sekalipun kepada orang kafir

Terlalu mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri

Tidak pernah melaknat sekalipun binatang

Apa yang dikatakannya ibarat mutiara

hingga sangat mempengaruhi orang yang mendengarnya

 

Dapat menyatupadukan manusia yang berbagai-bagai etnik, kaum,

bangsa dan yang berlainan warna kulit, bahasa dan budaya

Bahkan dapat menanamkan kasih sayang satu sama lain di kalangan

manusia

Melahirkan manusia yang begitu taat dan patuh kepada syariat Tuhannya

 

Sangat unggul dalam melahirkan manusia yang tinggi akhlak dan moralnya

Mampu menjadikan dunia bersih daripada noda dan dosa

Sukses menjadikan setiap orang rasa berpuas hati di bawah naungan

pimpinannya sekalipun yang bukan Islam

Mereka merasakan dia adalah pelindung dan penyelamat kepada seluruh

makhluk sekalipun binatang

 

Itulah dia Muhammad Rasulullah SAW

Itulah dia nabi kita, manusia luar biasa,

Yang istimewa kejadian dan akhlaknya paling sempurna, tiada

tandingannya

Baru sedikit saja kita ceritakan tentangnya, sudah mengagumkan kita

 

Apakah pribadi yang seperti ini kita tidak jatuh hati kepadanya?

Apakah manusia ini kita bisa melupakan begitu saja?

Apakah kita tidak terasa terhutang budi kepadanya?

Bahkan patut bersyukur kepadanya sepanjang masa

Dapatkah kita samakan dia dengan pemimpin-pemimpin yang lain di

dunia?

Jauh panggang dari api, bagai langit dengan bumi

Keagungan Muhammad SAW (2)

Yaa Rasululloh , Pribadimu Sungguh Menawan

Siapa di antara Kita yang membaca akhlak Muhammad saw., kemudian jiwanya tidak larut, matanya tidak berlinangan dan hatinya tidak bergetar ? Siapa di antara Kita yang mampu menahan emosinya ketika membaca biografi seorang yang sangat dermawan, mulia, lembut dan tawadhu’? Siapa yang mengkaji sirah hidup beliau yang agung, perangai yang mulia dan akhlak yang terpuji, kemudian dia tidak menagis, sembari berikrar, “Saya bersaksi bahwa Engkau adalah utusan Allah.”?

 

Duhai, kiranya kita mampu melaksanakan cara hidup, cinta dan akhlak yang mulia dari teladan agung dalam kehidupan. Kita bergaul dengan orang lain, lihatlah

Muhammad saw. memperlakukan musuh-musuhnya. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya Allah menyuruhku agar menyambung orang yang memutuskanku, memberi kepada orang yang menahanku, dan memaafkan terhadap orang yang mendzalimiku.”

Duhai, kiranya kita memperlakukan saudara seiman kita, sebagaimana Muhammad saw. memperlakukan orang-orang munafik, beliau memaafkan mereka, memintakan ampun terhadap mereka dan menyerahkan rahasia mereka kepada Allah swt.

Duhai, sekiranya kita memperlakukan anak-anak kita, sebagaimana Muhamamd saw. memperlakukan pembantu dan pekerjanya. Ketika pembantu kecil Muhamamd saw. sedang sakit, beliau. membesuk dan duduk di dekat kepalanya seraya mengajak untuk masuk Islam. Pembantu kecil itu masuk Islam, maka Muhammad gembira seraya berkata, “Segala puji bagi Allah swt yang telah menyelamatkan dirinya dari api neraka.”

“Seorang Yahudi menagih utang kepada Muhamamd saw. dengan marah-marah, kasar, dan tidak sopan di depan banyak orang. Muhammad saw. tersenyum dan menghadapinya dengan lembut. Tak disangka si Yahudi itu masuk Islam, mengucapkan syahadat, “Saya bersaksi bahwa Engkau utusan Allah.” Karena saya baca di Taurat tentang Engkau, yaitu ketika saya tambah marah, justeru Engkau tambah lembut menghadapiku.” Begitu pengakuan si Yahudi.

Duhai, kiranya kita memperlakukan kerabat kita, meskipun mereka berbuat buruk kepada kita, sebagaimana Muhammad saw. memperlakukan kerabat dan kaumnya. Karena kerabat dan kaum Muhamamd saw. menyakitinya, mengusirnya, mengejeknya, menolaknya, memeranginya. Namun, beliau tetap menghadapinya. Ketika beliau menaklukkan Makkah, posisi beliau sebagai pemenang, penentu kebijakan, namun beliau berdiri berpidato mengumumkan bahwa beliau memaafkan semuanya. Sejarah telah mencatat dan momentum telah menjadi saksi dengan sabda beliau,

”Allah telah mengampuni kalian, pergilah, kaliah bebas.”

 

Sewaktu Penduduk Thaif melempari Muhammad saw. sampai beliau berdarah-darah. Beliau menghapus darah segar yang mengalir dari tubuhnya sambil berdo’a, :

”Ya Allah, ampuni kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”

Muhammad saw. pernah dicegat oleh seorang Arab badui di tengah jalan, beliau hanya berdiri lama berhadapan, dan tidak berpaling sampai orang badui itu berlalu dengan sendirinya.

Suatu hari Beliau ditanya oleh seorang nenek tua, beliau dengan tekun, hangat dan penuh perhatian menjawab pertanyaannya. Muhamamd saw. juga membawa seorang anak kecil yang berstatus hamba sahaya, beliau menggandeng tanganyya mengajak berjalan-jalan.

Muhammad saw. senantiasa menjaga kehormatan seseorang, memuliakan seseorang, melaksanakan hak-hak seseorang. Muhammad saw. tidak pernah mengumpat, menjelekkan, melaknat, menyakiti, dan tidak merendahkan seseorang.

Muhammad saw. ketika hendak menasehati seseorang, beliau berkata, “Kenapa suatu kaum melaksanakan ini dan itu? Artinya, beliau tidak langsung menyalah orang tersebut. Beliau bersabda, “Mukmin itu tidak mencela, melaknat dan juga tidak keras perangainya. Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya yang paling saya cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya dengan saya kelak di hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian.”

 

Muhamamd saw. merapikan sandalnya, menjahit bajunya, menyapu rumahnya, memeras susu kambingnya, mendahulukan sahabatnya soal makanan. Muhammad saw. tidak suka pujian.

Muhamamd saw. sangat peduli terhadap fakir miskin, beliau berdiri membela orang yang terdzalimi, beliau bertandang ke orang papa, menengok orang sakit, mengantarkan jenazah, mengusap kepala anak yatim, santun terhadap perempuan, memuliakan tamu, memberi makan yang lapar, bercanda dengan anak-anak, dan menyayangi binatang.

Suatu ketika para sahabat memberi saran kepada Muhammad saw, “Tidakkah Engkau membunuh gembong kejahatan, seorang pendosa dan otak munafik, yaitu Abdullah bin Ubai bin Salul? Beliau menjawab, “Tidak, karena manusia nanti mengira bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya.”

Boleh jadi kita telah membaca biografi orang-orang besar, tokoh terkenal, ilmuwan, reformis, mujaddid, namun ketika kita membaca sirah kehidupan Muhammad saw. seakan-akan kita tidak mengenal selain dirinya, kita tidak mengakui selain dirinya. Tokoh-tokoh itu rasaya kecil di mata kita, hilang dalam ingatan kita, pupus dalam pikiran kita, yang ada hanya kebesaran Muhammad saw.:

 

Bayang-bayang Engkau selalu menghampiriku setiap saat

Ketika aku berpikir, pikiranku tertuju kepadamu

Saya berteriak lantang

Zamanmu bak taman indah nan menghijau

Aku mencintaimu, cinta yang tidak bisa ditafsirkan

Sungguh, Engkau tidak akan pernah hilang dari ingatan kami. Engkau ada di hati kami. Engkau bersemayam dalam jiwa kami. Engkau terukir dalam benak kami. Engkau berada di pendengaran dan penglihatan kami. Engkau mengalir dalam aliran darah kami. Engkau berada di sendi-sendi setiap jasad kami. Engkau hidup dalam seluruh anggota badan kami. Yaitu dalam sunnahmu, petunjukmu, ajaran luhurmu, akhlakmu yang mulya.

Kami bela Engkau dengan jiwa kami. Kami bela Engkau dengan anak-anak dan keluarga kami semua. Nyawa-nyawa kami sebagai tebusan atas jiwa Engkau. Kehormatan kami, kami pertaruhkan untuk membela kehormatan Engkau.

 

Apakah Engkau bertanya tentang umur kami? Engkaulah umur kami

Engkau bagi kami melegenda, karena Engkau seorang “Pembebas”

Luluh lebur ketokohan manusia, sehebat apapun

Karena setiap saat Engkau agung di hati kami

Shalawat dan salam atasmu ketika orang-orang yang berdzikir mengingatmu. Shalawat dan salam atasmu ketika orang yang lalai tidak pernah mengingatmu.

Keagungan Muhammad SAW (3)

Keagungan Muhammad SAW (4)MUHAMMAD DENGAN PENGEMIS YAHUDI

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW yang dihinanya setiap hari. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

 

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”

Aisyah RA menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu pun kebiasaan Rasulullah yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.” “Apakah Itu?,” tanya Abubakar RA. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana,” kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, ”Siapakah kamu?” Abubakar RA menjawab, ”Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).” ”Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu.

 

”Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku,” pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, ”Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”

Mendengar penjelasan Abubakar RA, seketika itu juga pengemis itu meledak tangisnya, sangat menyesal, dan dalam basahnya air mata ia berkata, ”Benarkah itu? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia, begitu agung…. ”

“ Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rosuulullah “ Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Sahabat…. Begitu indahnya akhlaq beliau, Orang Kafir Yahudi yang setiap saat mengejek, menghina, memfitnah bukan dijadikan musuh malah disantuni bukan sekali-sekali tapi seumur hidup beliau , mengapa kita yang disinggung atau dikritik sedit saja harus menghancurkan segalanya ? ada apa dengan kita ? meneladani siapakah kita hidup yang sejenak ini ? adakah sosok lain selain Rasulullah SAW yang layak kita teladani di semua sisi kehidupannya ? tidakkah kita berusaha sedikit demi sedikit meneladani Beliau ?

Keagungan Muhammad SAW (5)

Kesederhanaan Nabi Muhammad SAW

Ketika Islam telah memiliki pengaruh yang sedemikian kuat dan disegani, dan ketika para raja-raja di Romawi bergelimang harta, maka Rasulullah masih saja tidur beralaskan tikar di rumahnya yang sederhana. Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri, tidak menyuruh isterinya. Beliau juga memerah sendiri susu kambing, untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Sayidatina ‘Aisyah menceritakan: ”Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.”

Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sholat. Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai yang kemerah-merahan’). Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah lantas berkata, ”Kalau begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya. Ini sesuai dengan sabda beliau, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.” Prihatin, sabar dan tawadhu’nya baginda SAW sebagai kepala keluarga.

 

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai sholat :

“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar”

“Ya Rasulullah… mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit…” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

“Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak tidak boleh menyediakan untukmu ya Rosulullah ?”

Lalu baginda menjawab dengan lembut,

”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

Baginda Rasulullah pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.

Seolah-olah anugerah kemuliaan dari Allah tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.

 

Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih saja berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. Hingga ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah,

“Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?”

Jawab baginda dengan lunak,

“Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”

Ahmad mengeluarkan dengan isnad yang shahih, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, “Umar bin Al-Khaththab ra. bercerita kepadaku,

“Aku pernah memasuki rumah Rasulullah Shallailahu Alaihi wa Sallam, yang saat itu beliau sedang berbaring di atas selembar tikar. Setelah aku duduk di dekat beliau, aku baru tahu bahwa beliau juga menggelar kain mantelnya di atas tikar, dan tidak ada sesuatu yang lain, Tikar itu telah menimbulkan bekas guratan di lambung beliau. Aku juga melihat di salah satu pojok rumah beliau ada satu takar gandum. Di dinding tergantung selembar kulit yang sudah disamak. Melihat kesederhanaan ini kedua mataku meneteskan air mata.

“Mengapa engkau menangis wahai Ibnul-Khaththab?” tanya beliau “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis jika melihat gurat-gurat tikar yang membekas di lambung engkau itu dan lemari yang hanya diisi barang itu saja? Padahal Kisra dan Kaisar hidup di antara buah-buahan dan sungai yang mengalir. Engkau adalah Nabi Allah dan orang pilihan-Nya, sementara lemari engkau hanya seperti itu.

“Wahai Ibnul-Khaththab, apakah engkau tidak ridha jika kita mendapatkan akhirat, sedangkan mereka hanya mendapatkan dunia? ”

 

Sahabat…., Begitulah dunia dimata Junjungan Kita SAW…

Bagaimana dunia di sisi kita ?

 

Yaa Robb, jadikan Kami lebih mencintai akhirat di banding dunia..

Sungguh berat mamang mentauladani Rosulalloh, akan tetapi kita wajib memproses diri dan berusaha secara maksimal untuk mengcopy paste Beliau kendati hasilnya tidak 100% karena Allah tidak semata menilai keberhasilan kita tapi proses itulah yang senantiasa dicatat.

Keagungan Muhammad SAW (6)

Rosulullah dengan Pendeta Yahudi

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tengah melawat satu jenazah, datanglah seorang Yahudi bernama Zaid bin Su’nah menemui beliau untuk menuntut hutangnya.

Yahudi itu menarik ujung jubah dan selendang beliau sambil memandang dengan wajah yang bengis. Dia berkata: “Ya Muhammad, lunaskanlah hutangmu padaku!” dengan nada yang kasar.

Melihat hal itu Umar r.a pun marah, ia menoleh ke arah Zaid si Yahudi sambil mendelikkan matanya seraya berkata: “Hai musuh Allah, apakah engkau berani berkata dan berbuat tidak senonoh terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapanku!” Demi Dzat Yang telah mengutusnya dengan membawa Al-Haq, seandainya bukan kerana menghindari teguran beliau, niscaya sudah kutebas engkau dengan pedangku!”

Beliau berkata:

“Wahai Umar, saya dan dia lebih membutuhkan nasehatmu. Yaitu engkau anjurkan kepadaku untuk menunaikan hutangnya dengan baik, dan engkau perintahkan dia untuk menuntut hutangnya dengan cara yang baik pula. Wahai umar bawalah dia dan tunaikanlah haknya. Serta tambahlah dengan dua puluh sha’ kurma.”

Melihat Umar radhiallahu anhu menambah dua puluh sha’ kurma, Zaid si Yahudi itu bertanya: “Ya Umar, tambahan apakah ini?

Umar radhiallahu anhu menjawab: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku untuk menambahkannya sebagai ganti kemarahanmu!”

Si Yahudi itu berkata: “Ya Umar, apakah engkau mengenaliku?” “Tidak, lalu siapakah Anda?” Umar r.a balas bertanya.

“Aku adalah Zaid bin Su’nah” jawabnya.

“Apakah Zaid si PendetaYahudi itu?” tanya Umar lagi.

“Benar!” sahutnya.

Umar lantas berkata: “Apakah yang mendorongmu berbicara dan bertindak seperti itu terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?

Zaid menjawab: “Ya Umar, tidak satupun tanda-tanda kenabian kecuali aku pasti mengenalinya melalui wajah beliau setiap kali aku memandangnya.

Tinggal dua tanda yang belum aku buktikan, Yaitu: apakah beliau tetap besabar walaupun mendapat perlakuan buruk , dan apakah perlakuan buruk yang ditujukan kepadanya justeru semakin menambah kemurahan hati-nya?”

Dan sekarang aku telah membuktikannya. Aku bersaksi kepadamu wahai Umar, bahawa aku rela Allah S.w.t sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabiku. Dan Aku bersaksi kepadamu bahawa aku telah menyedekahkan sebahagian hartaku untuk umat Muhammad .

Umar r.a berkata: ” untuk sebagian umat Muhammad S.a.w saja, maksudmu ? sebab hartamu tidak akan cukup untuk dibahagikan kepada seluruh umat Muhammad .” Zaid berkata: “Ya, untuk sebagian umat Muhammad .

Zaid kemudian kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyatakan kalimah syahadah “Asyhadu al Laa Ilaaha Illallaahu, wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuuluhu”. Ia beriman dan membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .” (HR. Al-Hakim dalam kitab Mustadrak dan menshahihkannya).

Keagungan Muhammad SAW (7)

Kekuatan Maaf Rosulullah SAW

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang. Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?”

Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”.

Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.

Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”.

Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!” Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”.

Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”. Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!”

Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negrinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah.”

Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin.”

Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.”

 

Sahabat………..

Apakah kita pengikut ajaran beliau?

Tetapi sejauhmana kita bisa memaafkan kesalahan orang? Seberapa besar kita mencintai sesama? kalau tidak, kita perlu menanyakan kembali ikrar kita yang pernah kita ucapkan sebagai tanda kita pengikut beliau…

Sungguh, beliau adalah contoh yang sempurna sebagai seorang manusia biasa. beliau adalah Nabi terbesar, beliau juga adalah Suami yang sempurna, Bapak yang sempurna, pimpinan yang sempurna, teman dan sahabat yang sempurna, tetangga yang sempurna. maka tidak salah kalau Allah mengatakan bahwa Beliau adalah teladan yang sempurna.

Semoga Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, junjungan dan teladan kita yang oleh Allah telah diciptakan sebagai contoh manusia yang sempurna.

Keagungan Muhammad SAW (8)

Manusia Agung, Namun Rendah Hati

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”. (QS. al-Furqân: 63)

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang bersikap tawadhu’ karena mencari ridho Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barang siapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya.Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi” (HR. Al Baihaqi)

Inilah manusia Agung selalu berpihak dan sangat hormat kepada yang tua .Suka menjenguk orang yang sakit.Dan Mengasihani orang miskin.

Beliau bantu orang-orang yang lemah. Tidak segan bercengkrama & bergurau dengan anak-anak. Beliaupun suka bermain-main dengan keluarganya.

Beliau sudi berbincang dengan orang biasa yang terdapat di kalangan umat. serta rakyat jelata. Beliau bersedia duduk di atas tanah. Tidur di atas pasir, bertilamkan tanah, dan berbantalkan tikar kasar yang terbuat daripada pelapah kurma.

Beliau merasa puas dengan ketentuan Tuhannya. Beliau tidak pernah tamak terhadap kemasyhuran, kedudukan, atau jabatan yang menggiurkan atau tujuan-tujuan yang bersifat duniawi.

Beliau selalu tersenyum bila berjumpa para shahabat RA.Bila berjabatan tangan, beliau tidak hendak melepaskan sebelum sahabat itu melepaskan tangannya

Sahabat Abdurrahman Ibn Shakr yang lebih dikenal dengan Abu Hurairah r.a. bercerita: Sualu ketika aku masuk pasar bersama Rasulullah SAW. Rasulullah ber-henti, membeli celana .

Mendengar suara Rasulullah SAW, si pedagang celanapun melompat mencium tangan beliau. Rasulullah menarik tangan beliau sambil bersabda: “ltu tindakan orang-orang asing terhadap raja mereka. Aku bukan raja. Aku hanyalah laki-laki biasa seperti kamu.” Kemudian, beliau ambil celana yang sudah beliau beli. Aku berniat akan membawakannya, tapi.. Beliau buru-buru bersabda: ”Pemilik barang lebih berhak membawa barangnya.”

Dari ‘Umar bin al-Khaththab, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani memuji ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanya hamba-Nya maka katakanlah (tentang aku) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari:VI/478)

Dari Sahabat Anas bin Malik ra. berkata: “Dahulu ada budak kecil perempuan dari penduduk Madinah meraih tangan Rasulullah saw. Lalu dia mengajak beliau pergi ke mana saja ia suka.” (HR. Al-Bukhari:X/89, Fat-hul Baari, secara mu’alaq) dan (Muslim:XV/82-83, Syarh Muslim, Imam an-Nawawi)

Dari al-Aswad (bin Yazid), dia berkata: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah: “Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah saw. di rumahnya? ‘Aisyah menjawab: ‘Beliau biasa membantu keluarga; apabila mendengar suara adzan, beliau segera keluar (untuk menunaikan) shalat.” (HR. Al-Bukhari:II/162 Fat-hul Baari).

Manakala seseorang melihatnya gemetar karena karismanya, maka baginda berkata: “Tenangkanlah dirimu, sebab saya adalah anak seorang perempuan biasa yang memakan daging dendeng di Mekkah.”

Tidak ada seorangpun yang lebih mereka cintai daripada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Walaupun begitu, apabila mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri untuk menyambut beliau. karena mereka mengetahui bahwa beliau Shalallaahu alaihi wasalam tidak menyukai cara seperti itu.” (HR. Ahmad)

Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, walaupun seberat biji sawi.” (HR. Muslim).

Dalam sebuah kesempatan sahabat Abu Dzar a-Ghifffari r.a pernah bercakap-cakap dalam waktu yang cukup lama dengan Rasulullah S.a.w. Diantara isi percakapan tersebut adalah wasiat beliau kepadanya. Berikut petikannya ;

 

Aku berkata kepada Nabi S.a.w, “Ya Rasulullah, berwasiatlah kepadaku.” Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena ia adalah pokok segala urusan.” “Ya Rasulullah, tambahkanlah.” pintaku.

“Hendaklah engkau senantiasa membaca Al Qur`an dan berdzikir kepada Allah azza wa jalla, karena hal itu merupakan cahaya bagimu dibumi dan simpananmu dilangit.”

“Ya Rasulullah, tambahkanlah.” kataku.

“Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.”

“Lagi ya Rasulullah.”

“Hendaklah engkau pergi berjihad karena jihad adalah kependetaan ummatku.”

“Lagi ya Rasulullah.”

“Cintailah orang-orang miskin dan bergaullah dengan mereka.”

“Tambahilah lagi.”

“Katakanlah yang benar walaupun pahit akibatnya.”

“Tambahlah lagi untukku.”

“Hendaklah engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui dan mereka belum mendapatkan apa yang engkau sampaikan. Cukup sebagai kekurangan bagimu jika engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui manusia dan engkau membawa sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui).”

Kemudian beliau memukulkan tangannya kedadaku seraya bersabda,”Wahai Abu Dzar, Tidaklah ada orang yang berakal sebagaimana orang yang mau bertadabbur (berfikir), tidak ada wara` sebagaimana orang yang menahan diri (dari meminta), tidaklah disebut menghitung diri sebagaimana orang yang baik akhlaqnya.”

Kisah terakhir ini bukan ingin menceritakan detik-detik kelahiran Beliau sang kekasih Allah, tetapi ingin mengajak kita semua merasakan detik-detik terakhir bersama Rasulullah Muhammad SAW.

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasihNya. Maka taati dan bertaqwalah kepadaNya. Kuwariskan 2 hal pada kalian, Al Quran dan Sunnahku. Barangsiapa mencintai sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang yagn mencintaiku akan bersama sama masuk surga bersamaku”

Kutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabanya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengna berkaca kaca. Umar dadanya berdegubkencang menaha napas dan tangisnya. Utsman menghela napas panjang. Ali menundukkan kepala dalam dalam…..Isyarat itu telah datang, saatnya telah tiba.

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua” desah hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda tanda itu semakin kuat tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun mimbar.

Saat itu seluruh sahabat yang hadir serasa Manahan detik detik berlalu. Matahari kian tinggi, tetapi pintu Rasulullah masih tertutup. Di dalamnya Rasulullah sedang terbaring lemah dengan kening berkeringat dan membasahi pelepah kurma yagn menjadi alas tempat tidurnya.

Tiba tida dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya.

Tetapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk.

“Maafkanlah, tetapi ayahku sedang sakit” kata Fatimah sambil membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian dia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membukakan mata dan beratnya pada Fatimah.

“Siapakah itu, wahai putriku?”

“Aku tidak kenal ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu satu garis wajahnya seolah hendak di kenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut,” kata Rasulullah.

Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tetapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yagn sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara lemah.

“Pintu pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tetapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya’” kata Jibril. Detik detik semakin dekat, saatnya Izrail melaksanakan tugas. Perlahan ruh Rasulullah di tarik.

Tamapak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini’ lirih Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali disampingnya menunduk kian dalam dan Jibril membuang muka.

“jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?’ Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah di renggut ajal” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dasyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya, ‘Ushikum bi ash shalati wa ma malakat aimanukuk’ Peliharalah shalatmu dan santuni orang orang lemah di antaramu.

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat sahabat saling berpelukan. Fatimahmenutup wajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasul yagnmulai kebiruan. ‘Ummati ummati ummati’ dan pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.

Siapakah yang disapa lembaut Rasulullah pada detik detik akhir hayatnya? Umatku…umatku…umatku… Inilah Nabi yang membasahi janggutnya dengan air mata akrena memikirkan derita umat sepeninggalnya, yagn merebahkan dirinya di atas tanah dan mengangkatnya sebelum Allah mengizinkannya untuk memberikan syafaat kepada umatnya, yang suka dukanya terpaut dengan umat yang dipimpinnya.

‘Telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu sendiri. Berat baginya apa yag kamu derita, sangat ingin agar kamu mendapatkan kebahagiaan. Ia sangat pengasih dan penyayang kepada orang orang yang beriman’ (QS At Taubah, 9:128)

Salam álaik Yaa Rosulloh. Kau begitu mencintai Kami…

Sebagaimana diriwayatkan dalam HR Bukhori:

Jabir RA meriwayatkan, “Nabi SAW selalu bersandar pada sebatang pohon kurma (yang awalnya terletak pada tempat dimana tiang ini berada) ketika melakukan khutbah Jumat, kaum Ansar dengan hormat menawarkan pada Nabi SAW, “Kami dapat membuat sebuah mimbar untukmu, jika engkau menyetujuinya”.

Nabi SAW menyetujuinya .Dan sebuah mimbar yang terdiri dari 3 anak tangga dibangun. Ketika Nabi SAW duduk di atas mimbar ini untuk berkhutbah,

Terdengar batang pohon kurma itu menangis seperti anak kecil. Nabi SAW mendekati pohon yang sedang menangis ini dan kemudian memeluknya.

Rosululloh SAW bersabda : “apakah Engkau tidak ridha dikuburkan disini dan kelak akan bersamaku di surga?” Kemudian Pohon ini terdiam.

(Sekarang ini , tiang dimana pohon kurma itu dulu berada, dikenal dengan sebutan tiang Mukhallaqah)

 

Pohon kurma ini menangis karena Ia berpisah dengan Nabi SAW.

Pohon ini merasakan kepedihan perpisahan dengan Sang Kekasih Agung….

inilah sebagian kecil kisah agung Rasulullah SAW.

 Masih 99,99% yang belum bisa kami rilis dari sifat & Keagungan Rosulullah Muchammad SAW dalam arti yang detail. ( dan bacalah kitab Insanul Kamil )