Dari Abu Qatadah Al Anshari ra., katanya Rasulullah saw. ditanya orang tentang puasa hari ‘Arafah. Jawab beliau, “Semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu dan yang akan datang.” Kemudian beliau ditanya pula tentang puasa hari ‘asyura. Jawab beliau, “Semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu.” (HR Muslim Bab 14 no 95)

Dari ‘Aisyah ra., katanya: “Dizaman jahiliyah, orang-orang Quraisy melakukan puasa pada hari ‘Asyura, dan rasulullah saw. pernah pula mempuasakannya. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau mempuasakannya bahkan memerintahkan supaya umatnya mempuasakannya pula. Maka tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau bersabda, “Siapa yang suka puasa di hari ‘Asyura silahkan, dan siap yang tidak suka, tidak mengapa.” (HR Muslim Bab 14 no 56)

 

Dari ‘Abdullah Ibnu ‘Umar ra., katanya: “Kaum Jahiliyah puasa padahari ‘Asyura. Sedangkan Rasulullah saw. dan kaum muslimin pernah juga mempuasakannya sebelum perintah wajib puasa Ramadhan diturunkan. Maka ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya hari ‘Asyura itu suatu hari diantara hari-hari kebesaran Allah. Karena itu siapa yang puasa hari itu silahkan dan siapa yang tidak mau, boleh meninggalkannya.” (HR Muslim Bab 14 no 57)

 

Dari Abdurrahman Ibnu Yazaid ra., dia menceritakan bahwa Asy’ab bin Qais ra., pernah datang ke rumah ‘Abdullah ketika dia sedang makan. Lalu kata ‘Abdullah, “Ya, Abu Muhammad! Mari silahkan makan!” Jawab Asy’ats, “Bukankah hari ini hari ‘Asyura?” Jawab Abdullah, “Tahukah engkau, apakah hari ‘Asyura itu?” Kemudian dia melanjutkan, “Hari ‘Asyura ialah suatu hari dimana Rasulullah saw. pernah puasa sebelum perintah wajib puasa Ramadhan diturunkan. Tatkala kewajibn puasa Ramadhan telah turun, maka puasa ‘Asyura ditinggalkan beliau.”(HR Muslim Bab 14 no 58)

 

Dari Jabir bin Samurah ra., katanya: “Rasulullah saw. menyuruh kami puasa pada hari ‘asyura, dan beliau mendorong kami serta memperhatikan kami melaksanakannya. Tetapi ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, kami tidak lagi disuruh beliau, tetapi tidak pula dilarang dan tidak lagi diperhatikannya apakah kami puasa atau tidak.” (HR Muslim Bab 14 no 59)

 

Dari Ibnu ‘Abbas ra., katanya: “Ketika Rasulullah saw. belum lama tiba di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi puasa pada hari ‘Asyura. Lalu mereka ditanya perihal itu (apa sebabnya mereka puasa pada hari itu). Jawab mereka, “Hari ini adalah hari kemenangan Musa dan Bani Israil atas Fir’aun. Karena itu kami puasa pada hari ini untuk menghormati Musa.” Maka bersabda Rasulullah saw., “Kami lebih pantas memuliakan Musa daripada kamu.” Lalu beliau perintahkan supaya kaum muslimin puasa pada hari ‘Asyura.” (HR Muslim Bab 14 no 60)

Dari Ibnu ‘Abbas ra., katanya: “Ketika Rasulullah saw. belum lama tiba di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi puasa pada hari ‘Asyura. Maka bertanya beliau kepada mereka, “Hari apakah ini, sehingga anda semua mempuasakannya?” Jawab mereka, “Hari ini hari besar, dimana Allah memenangkan Musa serta kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun serta kaumnya. Karena itu Musa puasa setiap hari ini untuk menyatakan syukur, lalu kami mempuasakannya pula.” Maka bersabda Rasulullah saw., “Kami lebih pantas dan lebih berhak memuliakan Musa daripada kamu semua.” Lalu Rasulullah saw. puasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan kaum muslimin puasa pada hari itu.” (HR Muslim Bab 14 no 61)

 

Dari Abu Musa ra., katanya: “Hari ‘Asyura adalah hari yang dimuliakan orang-orang yahudi dan dijadikannya hari raya. Maka bersabda Rasulullah saw., “Puasalah kamu di hari ‘Asyura itu.” (HR Muslim Bab 14 no 62)

 

Dari Abu Musa ra., katanya: “Penduduk Khaibar puasa pada hari ‘Asyura dan menjadikannya sebagai hari raya, dimana wanita-wanita mereka memakai perhiasan dan pakaian-pakaian yang indah pada hari itu. Lalu Rasulullah saw. bersabda., “Puasalah kamu (pada hari itu)!”(HR Muslim Bab 14 no 63)

 

Dari Ibnu Abbas ra., katanya dia ditanya orang tentang puasa hari ‘Asyura. Lalu jawabnya, “Aku tidak tahu kalau Rasulullah saw. mempuasakannya untuk mendapatkan keutamaannya atas seluruh hari, selain hari ini (‘Asyura) dan bulan ini (Ramadhan).” (HR Muslim Bab 14 no 64)

 

Dari Abdullah bin Abbas ra., dia menceritakan bahwa ketika Rasulullah saw. puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) dan memerintahkan kaum muslimin supaya puasa, para sahabat berkata, “hari ini adalah hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani.” Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Apabila masih menyaksikan tahun yang akan datang, insya Allah kita puasa pada tanggal sembilan Muharram.” Kata ‘Abdullah selanjutnya, “Ternyata tahun depan itu, beliau wafat.” (HR Muslim Bab 14 no 65)

Dari Salamah bin Akwa’ ra., dia menceritakan bahwa Rasulullah saw. mengutus seorang laki-laki suku Aslam pada hari ‘Asyura dan memeirntahkan kepadanya supaya mengumumkan kepada orang banyak: “Siapa yang belum puasa hari ini hendaklah dia puasa, dan siapa yang terlanjur makan, hendaklah dia puasa juga sejak
mendengar pengumuman itu sampai malam.” (HR Muslim Bab 14 no 66)

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afra’ ra., katanya: “Suatu pagi ‘Asyura, Rasulullah saw. memerintahkan petugas keperkampungan orang Anshar yang berada disekitar Madinah, untuk menyampaikan pengumuman: “Siapa yang puasa sejak pagi hari hendaklah disempurnakannya puasanya, dan siapa yang tidak puasa hendaklah dia puasa setelah mendengar pengumuman ini.” Semenjak itu kami puasa pada hari ‘Asyura, dan kami suruh anak-anak kecil kami, insya Allah. Kami bawa mereka ke mesjid
dan kami buatkan mereka main-mainan dari bulu. Apabila ada yang menangis minta makan, kami berikan setelah waktu berbuka tiba.” (HR Muslim Bab 14 no 67)

masih banyak lagi hal-hal Peristiwa  dalam bulan asyuro

1. Ruh Rosululloh dicipta oleh Alloh dalam bulan asyuro

2. Fir’un dikalahkan oleh Nabi Musa dalam bulan asyuro

3. Nabi Ayub sembuh dari penyakitnya dalam bulan asyuro

4. Mendaratnya Perahu Nabi Nuh dalam bulan asyuro

5.masih banyak kisah-kisah kemenangan NabiNya Alloh dalam bulan asyuro