TENTANG AKAL FIKIRAN NABI

Akal yang sempurna adalah pokok pangkal segala sifat yang terpuji dan pendorong kepada tingkahhlaku dan tabiat yang terarah. dengan petunjuk akal dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik ? serta membawa seseorang mencapai sesuatu yang lebih sempurna.  sebagaimana masuknya Cholid Bin Walid dalam agama Islam setelah mengucapa dua Kalimat Sahadat ia berkata Yaa Rosulullah, aku menyaksikan bahwa tidak Tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusannya, lalu nabi mempersilahkannya masuk dan duduk, kemudian Nabi berkata kepadanya  :  segala puji Allah yang telah memberikan petunjuk kepadamu, memang aku melihat engkau seorang yang berakal sehat, maka kuharap kiranya akal itu tidak akan membawamu melainkan kepada segala yang baik.

dan bahwa akal fikiran Nabi SAW telah mencapai  puncak kesempurnaan yang tidakk perna dicapai oleh siapapun  dimuka bumi ini sebagai ni’mat karunia Allah kepadanya hal itu telah ditegaskan oleh Allah dalam firmannya “Engkau wahaiRasulullah, akal fikiranmu berada ditingkat yang tertinggi, yang tuhan bersumpah dengan NUN, yang berarti limpahan kaarunia Illahi dan bersumpah dengan Alqalam, pena yang berada di alam tertinggi dan perna suaranya di dengar oleh Nabi SWA, tatkala menuliskan segala sesuatu yang ada, yang sedang dan yang  akan terjadi. Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk yang agung itu untuk menegaskan luas dan  cerdas akal fikiran Nabi SAW dan bahwa beliau jauh dari pada sifat hilang atau kekurangan akal.

Waheb Bin Munnabbih, seorang Tabi’in dan dari padanya Albukhori dan Muslim juga menerima riwayat beberapa Hadist bahwa ia berkata : Aku telah membaca tujuh puluh satu (71) kitab, yang diturunkan Allah dahulu kepada para Nabinya, dan semuanya, aku dapati, dan bahwa perbandingan akal fikiran Muchammad SAW ibarat sebutir pasir dibandingkan dengan pasir-pasir yang ada didunia ini

Dan kesempurnaan akal Fikiran  Nabi tanpak juga dalam mengambil sesuatu keputusan  secara tepat, akurat dan bijaksana seperti yang terjadi ketika sukur Quraisy terlibat dalam pertentangan dan silang sengketa, tentang siapakah yang berhak meletakkan Batu Hajjar Aswat ketempatnya semula di Ka’bah Baitulloh. Kisahnya sebagai berikut ” setelah sukur Quraisy, selesai memugar Ka’bah maka timbullah perselisihan siapakah gerangan yang paling mustahaq mengembalikan Hajjar Aswad ke tempatnya semula ?  setiap kabila dan kelompok sama menginginkannya, karena hal itu dipandang sebagai penghormatan dan kemulyaan yang tiada tara nilainya, sehingga terjadi berdebatan yang luar biasa suasana sudah sedemikian panasnya, dan mengarah kepada pertumpahan darah dan perang saudara. hal ini terjadi selama 4 – 5 hari, kemudian bermusyawarah untuk mencapai mufakat dan bersepakat bulat memutuskan : bahwa siapapun yang datang bertama kali dan masuk masjid hari itu dialah yang akan diserahi, untuk memutuskan perkara yang pelik itu, dan semuanya sama berikrardan berjanji akan mematuhi keputusan itu, secara kebutulah Nabi SAW lah yang pertama kali datang dan memasuki masjid pada hari itu, maka semua merasa gembira dan serentak berkata : Tepat sekali dialah seorang yang jujur (Al – amien), kita semua menerima dengan senang hati , segala keputusan yang akan diambilnya, maka Nabi mengambil sehelai serban yang dibentangkan dan meminta agar tiap kepala Kabila , memegang ujung serban yang telah terbentang itu, dimana Batu Hajjar Aswad sudah ditetakkan disana, kemudian serban itu diangkat bersama-sama , setelah sampai dekat tempatnya semula, maka beliau sendiri yang meletakkannya, dengan keputusan yang adil dan bijaksana, maka kemelut yang nyaris membawa perang saudara dapat diselesaikan, memutuskan semua pihak yang berselisih dan diterima dengan perasaan lega.

Image