Andakata sistem cara PEMILIHAN kepala Dearah Wali Kota, Bupati, Gubernur dan Presiden menggunakan cara yang di ANUT Nabi Muchammad SAW niscaya Masyarakat/rakyat tidak ada miskin, sengsara dan kelaparan seperti saat ini. coba kita tengok kembali gimana kesempurnaan akal fikiran Nabi dalam memilih utusan / wakil dalam menjalankan tugas khusus. yaitu  Alaa’ Bin Hadramiy yang diutus Nabi, kepada Raja Munzir bin Sawaa, membawa sepucuk surat beliau dalam dialog dengan raja tsb antara lain berkata.  Wahai Munzir anda adalah seorang besar, tentu besar pula dalam berfikir, maka janganlah menjadi kecil di kampung akherat kelak, agama Majusi yang anda peluk tidak membawa kehormatan bagi bangsa arab seperti juga tidak dikenal oleh ahli Kitab, sedang penganut-penganutnya melakukan perkawinan, dengan cara yang rasanya malu untuk disebutkan disini, dan mereka makan yang tak layak untuk dimakan, serta menyembah api yang akan membakar hangus diri mereka dihari Qiamat, dan anda bukan seorang yang tidak berakal , maka renungkanlah, apakah seorang yang tak perna berdusta di dunia ini, tak pernah berkhianat, dan tak perna ingkar janji, adakah seorang yang demiian itu harus tidak dipercaya ? maka dialah seorang Nabi yang Ummi, dan demi Allah tak seorangpun yang berakal , dapat berkata bahwa apa yang dilarangnya itulah yang diperintahkan dan apa yang diperintahkan olehnya, itulah yang dilarang, bahwa segala apa yang datang dari padanya, benar-benar sejalan dengan apa yang didambahkan, oleh seorang ahli fikir yang berpandangan jauh.  Kemudian Munzir berkata “setelah aku berfikir tentang agamaku ini aama Majusi, maka aku dapati bahwa agama itu hanya untuk dunia semata, bukan untuk akherat, dan setelah aku berfikir tentang agama anda, maka aku berkesimpulan bahwa agama itu untuk dunia akherat, maka apakah gerangan yang menghalangi diriku menerima suatu agama, yang menjadi harapan dalam kehidupan ini, dan kesenangan setelah mati, dahulu aaku merasa heran memang kepada yang menerima baik agama itu, tapi kini sebaliknya aku sangat heran bagi yang menolaknya, dan dalam rangka menghormati apa yang dibawa oleh Nabi itu, maka utusan pribadinya yang dikirim kemari harus dihormati, dan saya masih akan melihat perkembangan lebih jauh. demikian raja Almunzir mengakhiri pembicaraannya.

Jelas dan gamblang andaikata semua Pemimpin daerah, wali kota, bupati, Gubernur dan Presiden semua berfikir bahwa jabatan yang mereka emban/pkul adalah amanah dan harus dipertanggungjawabkan kelak, niscaya mereka akan BERSUNGGUH-SUNGGUH memikul amanah itu, karena jabatan adalah jembatan di dunia untuk mencapai akherat sedangkan agama adalah Motivasi hidup di dunia untuk Jalan lurus menuju akherat. sedangkan Ulama adalah peliti (sinar) yang selalu menghiasi dan memberikan FATWA /pitutur jika dalam mengemban amanah itu adalah yang melenceng/salah sasaran menuju jalan akherat.  itulah perlunya PERPADUAN yang HARMONIS antara Ulama dan Umaro’

Mari kita renung lebih dalam bagi “PEMEGANG JABATAN”