Modul Pengenalan Internet

ASSESOR KKPI  “CH4M4”

Apa Itu Internet?

Internet (Inter-Network) adalah sebutan untuk sekumpulan jaringan komputer yang

menghubungkan situs akademik, pemerintahan, komersial, organisasi, maupun

perorangan. Internet menyediakan akses untuk layanan telekomnunikasi dan sumber daya

informasi untuk jutaan pemakainya yang tersebar di seluruh dunia. Layanan internet

meliputi komunikasi langsung (email, chat), diskusi (Usenet News, email, milis), sumber

daya informasi yang terdistribusi (World Wide Web, Gopher), remote login dan lalu

lintas file (Telnet, FTP), dan aneka layanan lainnya.

Jaringan yang membentuk internet bekerja berdasarkan suatu set protokol standar yang

digunakan untuk menghubungkan jaringan komputer dan mengalamati lalu lintas dalam

jaringan. Protokol ini mengatur format data yang diijinkan, penanganan kesalahan (error

handling), lalu lintas pesan, dan standar komunikasi lainnya. Protokol standar pada

internet dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).

Protokol ini memiliki kemampuan untuk bekerja diatas segala jenis komputer, tanpa

terpengaruh oleh perbedaan perangkat keras maupun sistem operasi yang digunakan.

Sebuah sistem komputer yang terhubung secara langsung ke jaringan memiliki nama

domain dan alamat IP (Internet Protocol) dalam bentuk numerik dengan format tertentu

sebagai pengenal. Internet juga memiliki gateway ke jaringan dan layanan yang berbasis

protokol lainnya.

 

Sejarah Internet

Cikal bakal jaringan Internet yang kita kenal saat ini pertama kali dikembangkan tahun

1969 oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat dengan nama ARPAnet (US Defense

Advanced Research Projects Agency). ARPAnet dibangun dengan sasaran untuk

membuat suatu jaringan komputer yang tersebar untuk menghindari pemusatan informasi

di satu titik yang dipandang rawan untuk dihancurkan apabila terjadi peperangan. Dengan

cara ini diharapkan apabila satu bagian dari jaringan terputus, maka jalur yang melalui

jaringan tersebut dapat secara otomatis dipindahkan ke saluran lainnya.

Di awal 1980-an, ARPANET terpecah menjadi dua jaringan, yaitu ARPANET dan

Milnet (sebuah jaringan militer), akan tetapi keduanya mempunyai hubungan sehingga

komunikasi antar jaringan tetap dapat dilakukan. Pada mulanya jaringan interkoneksi ini

disebut DARPA Internet, tapi lama-kelamaan disebut sebagai Internet saja. Sesudahnya,

internet mulai digunakan untuk kepentingan akademis dengan menghubungkan beberapa

perguruan tinggi, masing-masing UCLA, University of California at Santa Barbara,

University of Utah, dan Stanford Research Institute. Ini disusul dengan dibukanya

layanan Usenet dan Bitnet yang memungkinkan internet diakses melalui sarana komputer

pribadi (PC). Berkutnya, protokol standar TCP/IP mulai diperkenalkan pada tahun 1982,

disusul dengan penggunaan sistem DNS (Domain Name Service) pada 1984.

Di tahun 1986 lahir National Science Foundation Network (NSFNET), yang

menghubungkan para periset di seluruh negeri dengan 5 buah pusat super komputer.

Jaringan ini kemudian berkembang untuk menghubungkan berbagai jaringan akademis

lainnya yang terdiri atas universitas dan konsorsium-konsorsium riset. NSFNET

kemudian mulai menggantikan ARPANET sebagai jaringan riset utama di Amerika

hingga pada bulan Maret 1990 ARPANET secara resmi dibubarkan. Pada saat NSFNET

dibangun, berbagai jaringan internasional didirikan dan dihubungkan ke NSFNET.

Australia, negara-negara Skandinavia, Inggris, Perancis, jerman, Kanada dan Jepang

segera bergabung kedalam jaringan ini.

Pada awalnya, internet hanya menawarkan layanan berbasis teks, meliputi remote access,

email/messaging, maupun diskusi melalui newsgroup (Usenet). Layanan berbasis grafis

seperti World Wide Web (WWW) saat itu masih belum ada. Yang ada hanyalah layanan

yang disebut Gopher yang dalam beberapa hal mirip seperti web yang kita kenal saat ini,

kecuali sistem kerjanya yang masih berbasis teks. Kemajuan berarti dicapai pada tahun

1990 ketika World Wide Web mulai dikembangkan oleh CERN (Laboratorium Fisika

Partikel di Swiss) berdasarkan proposal yang dibuat oleh Tim Berners-Lee. Namun

demikian, WWW browser yang pertama baru lahir dua tahun kemudian, tepatnya pada

tahun 1992 dengan nama Viola. Viola diluncurkan oleh Pei Wei dan didistribusikan

bersama CERN WWW. Tentu saja web browser yang pertama ini masih sangat

sederhana, tidak secanggih browser modern yang kita gunakan saat ini.

Terobosan berarti lainnya terjadi pada 1993 ketika InterNIC didirikan untuk menjalankan

layanan pendaftaran domain. Bersamaan dengan itu, Gedung Putih (White House) mulai

online di Internet dan pemerintah Amerika Serikat meloloskan National Information

Infrastructure Act. Penggunaan internet secara komersial dimulai pada 1994 dipelopori

oleh perusahaan Pizza Hut, dan Internet Banking pertama kali diaplikasikan oleh First

Virtual. Setahun kemudian, Compuserve, America Online, dan Prodigy mulai

memberikan layanan akses ke Internet bagi masyarakat umum.

Sementara itu, kita di Indonesia baru bisa menikmati layanan Internet komersial pada

sekitar tahun 1994. Sebelumnya, beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia

telah terlebih dahulu tersambung dengan jaringan internet melalui gateway yang

menghubungkan universitas dengan network di luar negeri.

 

Tersambung ke Internet

Untuk tersambung ke jaringan internet, pengguna harus menggunakan layanan khsus

yang disebut ISP (Internet Service Provider). Media yang umum digunakan adalah

melalui saluran telepon (dikenal sebagai PPP, Point to Point Protocol). Pengguna

memanfaatkan komputer yang dilengkapi dengan modem (modultor and demodulator)

untuk melakukan dialup ke server milik ISP. Begitu tersambung ke server ISP, komputer

si pengguna sudah siap digunakan untuk mengakses jaringan internet. Pelanggan akan

dibebani biaya pulsa telepon plus layanan ISP yang jumlahnya bervariasi tergantung

lamanya koneksi.

Saluran telepon via modem bukan satu-satunya cara untuk tersambung ke layanan

internet. Sambungan juga dapat dilakukan melalui saluran dedicated line seperti ISDN

(Integrated System Digital Network) dan ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line),

maupun via satelit melalui VSAT (Very Small Aperture Terminal). Sayangnya, alternatifalterantif

ini terhitung cukup mahal untuk ukuran pelanggan perorangan.

Dewasa ini, saluran-saluran alternatif untuk akses internet yang lebih terjangkau masih

terus dikembangkan. Diantara alternatif yang tersedia adalah melalui gelombang radio

(radio modem), maupun lewat saluran TV kabel yang saat ini sedang marak. Alternatif

lain yang saat ini sedang dikaji adalah dengan menumpangkan aliran data pada saluran

kabel listrik PLN (dikenal dengan istilah PLC, Power Line Communication). Di

Indonesia, teknologi ini sedang diuji cobakan oleh PLN di Jakarta, sementara di negaranegara

maju konon sudah mulai dimasyarakatkan.

Belakangan, internet juga dikembangkan untuk aplikasi wireless (tanpa kabel) dengan

memanfaatkan telepon seluler. Untuk ini digunakan protokol WAP (Wireless Aplication

Protocol). WAP merupakan hasil kerjasama antar industri untuk membuat sebuah standar

yang terbuka (open standard) yang berbasis pada standar Internet, dan beberapa protokol

yang sudah dioptimasi untuk lingkungan wireless. WAP bekerja dalam modus teks

dengan kecepatan sekitar 9,6 kbps.

Selain WAP, juga dikembangkan GPRS (General Packet Radio Service) sebagai salah

satu standar komunikasi wireless. Dibandingkan dengan protokol WAP, GPRS memiliki

kelebihan dalam kecepatannya yang dapat mencapai 115 kbps dan adanya dukungan

aplikasi yang lebih luas, termasuk aplikasi grafis dan multimedia.

 

Aplikasi Internet

Internet sebenarnya mengacu kepada istilah untuk menyebut sebuah jaringan, bukannya

suatu aplikasi tertentu. Karenanya, internet tidaklah memiliki manfaat apa-apa tanpa

adanya aplikasi yang sesuai. Internet menyediakan beragam aplikasi yang dapat

digunakan untuk berbagai keperluan. Setiap aplikasi berjalan diatas sebuah protokol

tertentu. Istilah “protokol” di internet mengacu pada satu set aturan yang mengatur

bagaimana sebuah aplikasi berkomunikasi dalam suatu jaringan. Sedangkan software

aplikasi yang berjalan diatas sebuah protokol disebut sebagai aplikasi client. Di bagian

ini, kita akan berkenalan secara sepintas dengan aplikasi-aplikasi yang paling sering

dimanfaatkan oleh pengguna internet.

WWW (World Wide Web)

Dewasa ini, WWW atau yang sering disebut sebagai “web” saja adalah merupakan

aplikasi internet yang paling populer. Demikian populernya hingga banyak orang yang

keliru mengidentikkan web dengan internet.

Secara teknis, web adalah sebuah sistem dimana informasi dalam bentuk teks, gambar,

suara, dan lain-lain yang tersimpan dalam sebuah internet webserver dipresentasikan

dalam bentuk hypertext. Informasi di web dalam bentuk teks umumnya ditulis dalam

format HTML (Hypertext Markup Language). Informasi lainnya disajikan dalam bentuk

grafis (dalam format GIF, JPG, PNG), suara (dalam format AU, WAV), dan objek

multimedia lainnya (seperti MIDI, Shockwave, Quicktime Movie, 3D World).

Web dapat diakses oleh perangkat lunak web client yang secara populer disebut sebagai

browser. Browser membaca halaman-halaman web yang tersimpan dalam webserver

melalui protokol yang disebut HTTP (Hypertext Transfer Protocol). Dewasa ini, tersedia

beragam perangkat lunak browser. Beberapa diantaranya cukup populer dan digunakan

secara meluas, contohnya seperti Microsoft Internet Explorer, Netscape Navigator,

maupun Opera, namun ada juga beberapa produk browser yang kurang dikenal dan hanya

digunakan di lingkungan yang terbatas.

Sebagai dokumen hypertext, dokumen-dokumen di web dapat memiliki link (sambungan)

dengan dokumen lain, baik yang tersimpan dalam webserver yang sama maupun di

webserver lainnya. Link memudahkan para pengakses web berpindah dari satu halaman

ke halaman lainnya, dan “berkelana” dari satu server ke server lain. Kegiatan penelusuran

halaman web ini biasa diistilahkan sebagai browsing, ada juga yang menyebutnya sebagai

surfing (berselancar).

Seiring dengan semakin berkembangnya jaringan internet di seluruh dunia, maka jumlah

situs web yang tersedia juga semakin meningkat. Hingga saat ini, jumlah halaman web

yang bisa diakses melalui internet telah mencapai angka miliaran. Untuk memudahkan

penelusuran halaman web, terutama untuk menemukan halaman yang memuat topiktopik

yang spesifik, maka para pengakses web dapat menggunakan suatu search engine

(mesin pencari). Penelusuran berdasarkan search engine dilakukan berdasarkan kata

kunci (keyword) yang kemudian akan dicocokkan oleh search engine dengan database

(basis data) miliknya. Dewasa ini, search engine yang sering digunakan antara lain

adalah Google (www.google.com) dan Yahoo (www.yahoo.com).

 

Electronic Mail/Email/Messaging

Email atau kalau dalam istilah Indonesia, surat elektronik, adalah aplikasi yang

memungkinkan para pengguna internet untuk saling berkirim pesan melalui alamat

elektronik di internet. Para pengguna email memilki sebuah mailbox (kotak surat)

elektronik yang tersimpan dalam suatu mailserver. Suatu Mailbox memiliki sebuah

alamat sebagai pengenal agar dapat berhubungan dengan mailbox lainnya, baik dalam

bentuk penerimaan maupun pengiriman pesan. Pesan yang diterima akan ditampung

dalam mailbox, selanjutnya pemilik mailbox sewaktu-waktu dapat mengecek isinya,

menjawab pesan, menghapus, atau menyunting dan mengirimkan pesan email.

Layanan email biasanya dikelompokkan dalam dua basis, yaitu email berbasis client dan

email berbasis web. Bagi pengguna email berbasis client, aktifitas per-emailan dilakukan

dengan menggunakan perangkat lunak email client, misalnya Eudora atau Outlook

Express. Perangkat lunak ini menyediakan fungsi-fungsi penyuntingan dan pembacaan

email secara offline (tidak tersambung ke internet), dengan demikian, biaya koneksi ke

internet dapat dihemat. Koneksi hanya diperlukan untuk melakukan pengiriman (send)

atau menerima (recieve) email dari mailbox.

Sebaliknya, bagi pengguna email berbasis web, seluruh kegiatan per-emailan harus

dilakukan melalui suatu situs web. Dengan demikian, untuk menggunakannya haruslah

dalam keadaan online. Alamat email dari ISP (Internet Service Provider) umumnya

berbasis client, sedangkan email berbasis web biasanya disediakan oleh penyelenggara

layanan email gratis seperti Hotmail (www.hotmail.com) atau YahooMail

(mail.yahoo.com).

Beberapa pengguna email dapat membentuk kelompok tersendiri yang diwakili oleh

sebuah alamat email. Setiap email yang ditujukan ke alamat email kelompok akan secara

otomatis diteruskan ke alamat email seluruh anggotanya. Kelompok semacam ini disebut

sebagai milis (mailing list). Sebuah milis didirikan atas dasar kesamaan minat atau

kepentingan dan biasanya dimanfaatkan untuk keperluan diskusi atau pertukaran

informasi diantara para anggotanya. Saat ini, salah satu server milis yang cukup banyak

digunakan adalah Yahoogroups (www.yahoogroups.com).

Pada mulanya sistem email hanya dapat digunakan untuk mengirim informasi dalam

bentuk teks standar (dikenal sebagai ASCII, American Standard Code for Information

Interchange). Saat itu sukar untuk mengirimkan data yang berupa berkas non-teks

(dikenal sebagai file binary). Cara yang umum dilakukan kala itu adalah dengan

menggunakan program uuencode untuk mengubah berkas binary tersebut menjadi berkas

ASCII, kemudian baru dikirimkan melalui e-mail. Di tempat tujuan, proses sebaliknya

dilakukan. Berkas ASCII tersebut diubah kembali ke berkas binary dengan menggunakan

program uudecode. Cara ini tentunya terlalu kompleks karena tidak terintegrasi dengan

sistem email.

Belakangan dikembangkan standar baru yang disebut MIME (Multipurpose Internet Mail

Extensions). Standar ini diciptakan untuk mempermudah pengiriman berkas dengan

melalui attachment (lampiran). MIME juga memungkinkan sebuah pesan dikirimkan

dalam berbagai variasi jenis huruf, warna, maupun elemen grafis. Walaupun nampak

menarik, penggunaan MIME akan membengkakkan ukuran pesan email yang dikirimkan.

Hal ini jelas akan memperlambat waktu yang dibutuhkan untuk mengirim maupun

menerima pesan. Dalam hal ini, ada anjuran agar sedapat mungkin menggunakan format

teks standar dalam penyuntingan email. Gunakan MIME hanya untuk pesan-pesan

tertentu yang memang membutuhkan tampilan yang lebih kompleks.

 

File Transfer

Fasilitas ini memungkinkan para pengguna internet untuk melakukan pengiriman

(upload) atau menyalin (download) sebuah file antara komputer lokal dengan komputer

lain yang terhubung dalam jaringan internet. Protokol standar yang digunakan untuk

keperluan ini disebut sebagai File Transfer Protocol (FTP)

FTP umumnya dimanfaatkan sebagai sarana pendukung untuk kepentingan pertukaran

maupun penyebarluasan sebuah file melalui jaringan internet. FTP juga dimanfaatkan

untuk melakukan prose upload suatu halaman web ke webserver agar dapat diakses oleh

pengguna internet lainnya.

Secara teknis, aplikasi FTP disebut sebagai FTP client, dan yang populer digunakan saat

ini antara lain adalah Cute FTP dan WS_FTP, Aplikasi-aplikasi ini umumnya

dimanfaatkan untuk transaksi FTP yang bersifat dua arah (active FTP). Modus ini

memungkinkan pengguna untuk melakukan baik proses upload maupun proses

download. Tidak semua semua server FTP dapat diakses dalam modus active. Untuk

mencegah penyalahgunaan–yang dapat berakibat fatal bagi sebuah server FTP–maka

pengguna FTP untuk modus active harus memiliki hak akses untuk mengirimkan file ke

sebuah server FTP. Hak akses tersebut berupa sebuah login name dan password sebagai

kunci untuk memasuki sebuah sistem FTP server. Untuk modus passive, selama memang

tidak ada restriksi dari pengelola server, umumnya dapat dilakukan oleh semua pengguna

dengan modus anonymous login (log in secara anonim). Kegiatan mendownload software

dari Internet misalnya, juga dapat digolongkan sebagai passive FTP.

 

Remote Login

Layanan remote login mengacu pada program atau protokol yang menyediakan fungsi

yang memungkinkan seorang pengguna internet untuk mengakses (login) ke sebuah

terminal (remote host) dalam lingkungan jaringan internet. Dengan memanfaatkan

remote login, seorang pengguna internet dapat mengoperasikan sebuah host dari jarak

jauh tanpa harus secara fisik berhadapan dengan host bersangkutan. Dari sana ia dapat

melakukan pemeliharaan (maintenance), menjalankan sebuah program atau malahan

menginstall program baru di remote host.

Protokol yang umum digunakan untuk keperluan remote login adalah Telnet

(Telecommunications Network). Telnet dikembangkan sebagai suatu metode yang

memungkinkan sebuah terminal mengakses resource milik terminal lainnya (termasuk

hard disk dan program-program yang terinstall didalamnya) dengan cara membangun

link melalui saluran komunikasi yang ada, seperti modem atau network adapter. Dalam

hal ini, protokol Telnet harus mampu menjembatani perbedaan antar terminal, seperti tipe

komputer maupun sistem operasi yang digunakan.

Aplikasi Telnet umumnya digunakan oleh pengguna teknis di internet. Dengan

memanfaatkan Telnet, seorang administrator sistem dapat terus memegang kendali atas

sistem yang ia operasikan tanpa harus mengakses sistem secara fisik, bahkan tanpa

terkendala oleh batasan geografis.

Namun demikian, penggunaan remote login, khususnya Telnet, sebenarnya mengandung

resiko, terutama dari tangan-tangan jahil yang banyak berkeliaran di internet. Dengan

memonitor lalu lintas data dari penggunaan Telnet, para cracker dapat memperoleh

banyak informasi dari sebuah host, dan bahkan mencuri data-data penting sepert login

name dan password untuk mengakses ke sebuah host. Kalau sudah begini, mudah saja

bagi mereka-mereka ini untuk mengambil alih sebuah host. Untuk memperkecil resiko

ini, maka telah dikembangkan protokol SSH (secure shell) untuk menggantikan Telnet

dalam melakukan remote login. Dengan memanfaatkan SSH, maka paket data antar host

akan dienkripsi (diacak) sehingga apabila “disadap” tidak akan menghasilkan informasi

yang berarti bagi pelakunya.

 

IRC (Internet Relay Chat)

Layanan IRC, atau biasa disebut sebagai “chat” saja adalah sebuah bentuk komunikasi di

intenet yang menggunakan sarana baris-baris tulisan yang diketikkan melalui keyboard.

Dalam sebuah sesi chat, komnunikasi terjalin melalui saling bertukar pesan-pesan

singkat. kegiatan ini disebut chatting dan pelakunya disebut sebagai chatter. Para chatter

dapat saling berkomunikasi secara berkelompok dalam suatu chat room dengan

membicarakan topik tertentu atau berpindah ke modus private untuk mengobrol berdua

saja dengan chatter lain. Kegiatan chatting membutuhkan software yang disebut IRC

Client, diantaranya yang paling populer adalah software mIRC.

Ada juga beberapa variasi lain dari IRC, misalnya apa yang dikenal sebagai MUD

(Multi-User Dungeon atau Multi-User Dimension). Berbeda dengan IRC yang hanya

menampung obrolan, aplikasi pada MUD jauh lebih fleksibel dan luas. MUD lebih mirip

seperti sebuah dunia virtual (virtual world) dimana para penggunanya dapat saling

berinteraksi seperti halnya pada dunia nyata, misalnya dengan melakukan kegiatan tukar

menukar file atau meninggalkan pesan. Karenanya, selain untuk bersenang-senang, MUD

juga sering dipakai oleh komunitas ilmiah serta untuk kepentingan pendidikan (misalnya

untuk memfasilitasi kegiatan kuliah jarak jauh).

Belakangan, dengan semakin tingginya kecepatan akses internet, maka aplikasi chat terus

diperluas sehingga komunikasi tidak hanya terjalin melalui tulisan namun juga melalui

suara (teleconference), bahkan melalui gambar dan suara sekaligus (videoconference).

***

Aplikasi-apliakasi diatas sebenarnya adalah aplikasi dasar yang paling umum digunakan

dalam internet. Selain aplikasi-aplikasi tersebut, masih ada lusinan aplikasi lainnya yang

memanfaatkan jaringan internet, baik aplikasi yang sering maupun jarang dipergunakan.

Teknologi internet sendiri terus berkembang sehingga aplikasi baru terus bermunculan.

Disamping itu, aplikasi-aplikasi yang telah ada masih terus dikembangkan dan

disempurnakan untuk memenuhi kebutuhan penggunanya.

 

Interaksi Secara Elektronis

Akhir-akhir ini, kita cenderung semakin akrab dengan istilah-istilah semacam e-

Commerce, e-Banking, e-Government, e-Learning, dan sebagainya. Huruf “E” disini

mengacu pada kata “Electronic”, tapi lebih banyak digunakan dalam konteks internet.

Jadi, istilah-istilah tersebut bisa dibaca sebagai Electronic Commerce, Electronic

Government, Electronic Banking, atau Electronic Learning.

Dalam bagian ini, kita akan membahas secara sepintas tentang hal-hal yang berkaitan

dengan istilah-istilah diatas. Dalam kenyataannya, hal-hal tersebut jauh lebih kompleks

sehingga tidak mungkin dibahas secara rinci dalam halaman ini.

 

E-Commerce

Dari namanya, kita sudah bisa menebak kalau ini berkaitan dengan kegiatan yang bersifat

komersial. Tidak salah memang, karena istilah e-commerce yang akan kita bahas ini

memang mengacu pada kegiatan komersial di internet. Contoh paling umum dari

kegiatan e-commerce tentu saja adalah aktifitas transaksi perdagangan melalui sarana

internet. Dengan memanfaatkan e-commerce, para penjual (merchant) dapat menjajakan

produknya secara lintas negara karena memang sifat internet sendiri yang tidak mengenal

batasan geografis. Transaksi dapat berlangsung secara real time dari sudut mana saja di

dunia asalkan terhubung dalam jaringan internet.

Umumnya transaksi melalui sarana e-commerce dilakukan melalui sarana suatu situs web

yang dalam hal ini berlaku sebagai semacam etalase bagi produk yang dijajakan. Dari

situs web ini, para pembeli (customer) dapat melihat bentuk dan spesifikasi produk

bersangkutan lengkap dengan harga yang dipatok. Berikutnya, apabila si calon pembeli

tertarik, maka ia dapat melakukan transaksi pembelian di situs tersebut dengan sarana

kartu kredit. Berbeda dengan transaksi kartu kredit pada umumnya yang menggunakan

peralatan khusus, transaksi kartu kredit di internet cukup dilakukan dengan memasukkan

nomor kartu kredit beserta waktu kadaluwarsanya pada formulir yang disediakan.

Di tahap selanjutnya, program di server e-commerce akan melakukan verifikasi terhadap

nomor kartu kredit yang diinputkan. Apabila nomor kartu yang dimasukkan valid, maka

transaksi dianggap sah dan barang yang dipesan akan dikirimkan ke alamat pembeli.

Tentu saja sebelumnya saat mengisi formulir pemesanan, calon pembeli telah mengisikan

alamat lengkap kemana barang yang akan dibelinya harus dikirimkan. Harga barang yang

dibeli kemudian akan dimasukkan dalam rekening tagihan dari kartu kredit yang

digunakan.

Aktifitas e-commerce sebenarnya bukan melulu berkisar pada usaha perdagangan. Kalau

kita rajin menjelajahi situs-situs web, kita bisa menjumpai aneka usaha yang pada intinya

berusaha mengeduk keuntungan dari lalu-lintas akses internet. Ambil contoh situs lelang

online di http://www.ebay.com yang demikian populer, juga situs penyedia jasa yang mengutip

bayaran untuk netters yang ingin menggunakan layanannya. Tidak ketinggalan pula situssitus

khusus dewasa. Bahkan untuk yang terakhir ini justeru disebut-sebut sebagai

pelopor dari bisnis e-commerce.

Seperti halnya kegiatan bisnis konvensional, iklan juga memegang peranan penting

dalam e-commerce. Para pengelola situs web banyak mendapatkan pemasukan dari iklan

yang ditayangkan di situs web yang dikelolanya (umumnya berbentuk iklan banner atau

popup window). Tengok saja Yahoo atau DetikCom sebagai contoh dimana tiap

halamannya selalu dijejali oleh banner iklan yang mencolok mata. Wajar saja, sebab dari

sanalah sumber pembiayaan layanan (plus sumber keuntungan) mereka berasal.

Tapi dengan makin banyaknya situs web yang muncul juga berarti semakin ketatnya

persaingan. Menjaring iklan di sebuah situs web tentu saja tidak gampang. Para

pemasang iklan umumnya hanya berminat memasang iklannya pada situs dengan trafik

kunjungan yang tinggi. Itu artinya para pengelola situs harus berusaha memancing

sebanyak mungkin pengunjung ke situs mereka. Caranya tentu saja dengan memajang

content yang beragam sehingga pengunjung bisa betah berlama-lama di situsnya–syukursyukur

kalau mereka akan balik lagi di kesempatan berikut atau lebih baik lagi apabila

sampai menjadi pengunjung setia.

Sayangnya mengundang pengunjung dengan cara ini jelas butuh usaha dan biaya yang

tidak sedikit, sementara itu efektifitas pemasangan banner iklan di situs web sendiri

sebenarnya masih diragukan. Para pengunjung situs web umumnya datang dengan tujuan

untuk mencari informasi sehingga kemungkinan besar tidak sempat melirik ke bannerbanner

yang terpajang di situs web bersangkutan. Alih-alih memperhatikan, para

pengunjung kerap malahan merasa terganggu dengan adanya banner iklan di sebuah

halaman web. Walhasil banyak situs web yang tidak mampu membiayai operasionalnya

karena pemasukan dari iklan ternyata tidak mampu mengimbangi besarnya modal yang

dikucurkan. Karena itulah beberapa waktu terakhir ini kita banyak melihat situs web

komersial (dikenal sebagai ‘DotCom’) yang bertumbangan

 

E-Banking

Electronic Banking, atau e-banking bisa diartikan sebagai aktifitas perbankan di internet.

Layanan ini memungkinkan nasabah sebuah bank dapat melakukan hampir semua jenis

transaksi perbankan melalui sarana internet, khususnya via web. Mirip dengan

penggunaan mesin ATM, lewat sarana internet seorang nasabah dapat melakukan

aktifitas pengecekan rekening, transfer dana antar rekening, hingga pembayaran tagihantagihan

rutin bulanan (listrik, telepon, dsb.) melalui rekening banknya. Jelas banyak

keuntungan yang bisa didapatkan nasabah dengan memanfaatkan layanan ini, terutama

bila dilihat dari waktu dan tenaga yang dapat dihemat karena transaksi e-banking jelas

bebas antrian dan dapat dilakukan dari mana saja sepanjang nasabah dapat terhubung

dengan jaringan internet.

Untuk dapat menggunakan layanan ini, seorang nasabah akan dibekali dengan login dan

kode akses ke situs web dimana terdapat fasilitas e-banking milik bank bersangkutan.

Selanjutnya, nasabah dapat melakukan login dan melakukan aktifitas perbankan melalui

situs web bank bersangkutan.

E-banking sebenarnya bukan barang baru di internet, tapi di Indonesia sendiri, baru

beberapa tahun belakangan ini marak diaplikasikan oleh beberapa bank papan atas.

Konon ini berkaitan dengan keamanan nasabah yang tentunya menjadi perhatian utama

dari para pengelola bank disamping masalah infrastruktur bank bersangkutan.

Keamanan memang merupakan isu utama dalam e-banking karena sebagaimana kegiatan

lainnya di internet, transaksi perbankan di internet juga rawan terhadap pengintaian dan

penyalahgunaan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Sebuah situs ebanking

diwajibkan untuk menggunakan standar keamanan yang sangat ketat untuk

menjamin bahwa setiap layanan yang mereka sediakan hanya dimanfaatkan oleh mereka

yang memang betul-betul berhak. Salah satu teknik pengamanan yang sering dugunakan

dalam e-banking adalah melalui SSL (Secure Socket Layer) maupun lewat protokol

HTTPS (Secure HTTP).

 

E-Government

Istilah ini baru kedengaran beberapa waktu belakangan ini, seiring dengan maraknya

pemanfaatan teknologi internet dalam bidang pemerintahan. Walaupun namanya egovernmet,

tapi jangan dibayangkan ini adalah sistem pemerintahan yang sepenuhnya

berbasis internet. E-government, khususnya di Indonesia, masih diartikan secara sempit

sebagai sebuah sistem di internet (entah web, alamat email kontak, atau milis) yang

mengeksploitir potensi di suatu daerah dengan maksud mengundang pihak-pihak yang

mungkin dapat memberikan keuntungan bagi daerah bersangkutan, entah itu sebagai

investor atau turis.

Kalau kita menengok ke situs-situs pemerintah daerah di Indonesia yang mengaku

sebagai “e-government“, sebenarnya tidak ubahnya dengan etalase yang memajang data

statisik, potensi wisata, dan kekayaan alam suatu daerah, dan tidak ketinggalan pula

kesempatan (baca: undangan) bagi para investor untuk menanamkan modalnya di daerah

bersangkutan. Content yang berkaitan dengan pemerintahan (government) sendiri

malahan tidak mendapat perhatian yang cukup.

Ini mungkin hanya masalah istilah, tapi rasanya cukup mengganggu juga, khususnya

kalau dibandingkan dengan aktifitas elektronik lainnya di internet yang memang betulbetul

mengacu ke namanya. Namun demikian, mudah-mudahan kita juga sedang menuju

ke arah yang lebih maju dalam hal pemanfaatan internet untuk keperluan pemerintahan

sehingga kelak slogan e-government ini betul-betul diaplikasikan secara utuh dan

bukannya sekedar sebagai “etalase” potensi daerah seperti yang sekarang kita saksikan.

Salah satu contoh penerapan e-Government dalam artian sesungguhnya dapat dijumpai di

negara tetangga kita, Singapura. Untuk penerapan e-Governement di negaranya,

pemerintah Singapura telah menjalankan proyek ambisius yang disebut eGAP (Electronic

Government Action Plan). Proyek yang setiap tahapnya menyedot anggaran sebesar US$

743 juta ini bertujuan untuk mewujudkan pelayanan publik secara online di negara

tersebut.

Tahap pertama proyek ini telah berhasil membangun 1600 layanan publik secara online.

Layanan ini tidak hanya memberi informasi, tetapi juga sanggup melakukan transaksi

semacam memesan fasilitas olahraga, mendaftarkan perusahaan, membuat paspor baru,

dan sebagainya. Program ini telah berhasil membuat 75 persen penduduk Singapura

mulai berkomunikasi dengan birokrasi secara online via internet. Dalam proyek eGAP

tahap II yang dimulai pada tahun 2003, pemerintah negara pulau tersebut mengharapkan

90 persen warga negaranya dapat berkomunikasi secara online pada 2006 nanti.

 

e-Learning

Istilah e-Learning dapat didefinisikan sebagai sebuah bentuk penerapan teknologi

informasi di bidang pendidikan dalam bentuk sekolah maya. Definisi e-Learning sendiri

sebenarnya sangat luas, bahkan sebuah portal informasi tentang suatu topik (seperti

halnya situs ini) juga dapat tercakup dalam e-Learning ini. Namun istilah e-Learning

lebih tepat ditujukan sebagai usaha untuk membuat sebuah transformasi proses belajarmengajar

di sekolah dalam bentuk digital yang dijembatani oleh teknologi Internet.

Dalam teknologi e-Learning, semua proses belajar-mengajar yang biasa ditemui dalam

sebuah ruang kelas, dilakukan secara live namun virtual, artinya dalam saat yang sama,

seorang guru mengajar di depan sebuah komputer yang ada di suatu tempat, sedangkan

para siswa mengikuti pelajaran tersebut dari komputer lain di tempat yang berbeda.

Dalam hal ini, secara langsung guru dan siswa tidak saling berkomunikasi, namun secara

tidak langsung mereka saling berinteraksi pada waktu yang sama.

Semua proses belajar-mengajar hanya dilakukan di depan sebuah komputer yang

terhubung ke jaringan internet, dan semua fasilitas yang yang biasa tersedia di sebuah

sekolah dapat tergantikan fungsinya hanya oleh menu yang terpampang pada layar

monitor komputer. Materi pelajaran pun dapat diperoleh secara langsung dalam bentuk

file-file yang dapat di-download, sedangkan interaksi antara guru dan siswa dalam bentuk

pemberian tugas dapat dilakukan secara lebih intensif dalam bentuk forum diskusi dan

email.

Pemanfaatan e-Learning membuahkan beberapa keuntungan, diantaranya dari segi

finansial dengan berkurangnya biaya yang diperlukan untuk mengimplementasikan

sistem secara keseluruhan jika dibandingkan dengan biaya yang dibutuhkan untuk

mendirikan bangunan sekolah beserta seluruh perangkat pendukungnya, termasuk

pengajar. Dari sisi peserta didik, biaya yang diperlukan untuk mengikuti sekolah

konvensional, misalnya transportasi, pembelian buku, dan sebagainya dapat dikurangi,

namun sebagai gantinya diperlukan biaya akses internet. Dari sisi penyelenggara, biaya

pengadaan e-Learning sendiri dapat direduksi, disamping jumlah peserta didik yang dapat

ditampung jauh melebihi yang dapat ditangani oleh metode konvensional dalam kondisi

geografis yang lebih luas.

Namun, dibalik segala kelebihan yang ditawarkan, penerapan e-Learning, khususnya di

Indonesia masih menyimpan masalah, antara lain pada keterbatasan akses internet serta

kurangnya pemahaman masyarakat akan teknologi internet. e-Learning juga kurang

cocok untuk digunakan pada level pendidikan dasar dan menengah, khususnya karena

kendala sosialisasi. Seperti kita ketahui, tujuan kegiatan belajar-mengajar di sekolah

bukan hanya untuk menimba ilmu pengetahuan, melainkan juga melatih anak untuk

bersosialisasi dengan teman sebaya maupun lingkungan di luar rumah. Hal semacam ini

tidak bisa didapati dalam sekolah maya via e-Learning. Disamping itu, sistem belajar

jarak jauh sangat mensyaratkan kemandirian, sehingga lebih cocok untuk diterapkan pada

lembaga pendidikan tinggi maupun kursus.

***

Disamping beberapa sampel diatas, kita akan menjumpai lebih banyak lagi “e-e” lainnya

di intenet sebagai konsekuensi dari semakin banyaknya aktifitas di dunia nyata yang

dapat dipindahkan dalam bentuk elektronis di internet. Namun demikian, kiranya kita

semua setuju bahwa tidak seluruh kegiatan manusia dapat ditransformasikan kedalam

bentuk elektronis. Manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial, dan karenanya memiliki

naluri untuk bersosialisasi secara normal. Kebutuhan sosialisasi semacam ini hanya bisa

dipuaskan melalui interaksi secara manusiawi, bukan melalui perangkat elektronik,

seberapapun majunya tingkat perkembangan teknologi yang telah dicapai.

 

Cybercrime

Sebagaimana di dunia nyata, internet sebagai dunia maya juga banyak mengundang

tangan-tangan kriminal dalam beraksi, baik untuk mencari keuntungan materi maupun

sekedar untuk melampiaskan keisengan. Hal ini memunculkan fenomena khas yang

sering disebut cybercrime (kejahatan di dunia cyber).

Dalam lingkup cybercrime, kita sering menemui istilah hacker. Penggunaan istilah ini

dalam konteks cybercrime sebenarnya kurang tepat. Istilah hacker biasanya mengacu

pada seseorang yang punya minat besar untuk mempelajari sistem komputer secara detail

dan bagaimana meningkatkan kapabilitasnya. Besarnya minat yang dimiliki seorang

hacker dapat mendorongnya untik memiliki kemampuan penguasaan sistem yang diatas

rata-rata kebanyakan pengguna. Jadi, hacker sebenarnya memiliki konotasi yang netral.

Adapun mereka yang sering melakukan aksi-aksi perusakan di internet lazimnya disebut

sebagai cracker (terjemahan bebas: pembobol). Boleh dibilang para craker ini sebenarnya

adalah hacker yang memanfaatkan kemampuannya untuk hal-hal yang negatif.

Aktifitas cracking di internet memiliki lingkup yang sangat luas, mulai dari pembajakan

account milik orang lain, pembajakan situs web, probing, menyebarkan virus hingga

pelumpuhan target sasaran. Tindakan yang terakhir disebut ini dikenal sebagai DoS

(Denial of Services). Dibandingkan modus lain, DoS termasuk yang paling berbahaya

karena tidak hanya sekedar melakukan pencurian maupun perusakan terhadap data pada

sistem milik orang lain, tetapi juga merusak dan melumpuhkan sebuah sistem.

Salah satu aktifitas cracking yang paling dikenal adalah pembajakan sebuah situs web

dan kemudian mengganti tampilan halaman mukanya. Tindakan ini biasa dikenal dengan

istilah deface. Motif tindakan ini bermacam-macam, mulai dari sekedar iseng menguji

“kesaktian” ilmu yang dimiliki, persaingan bisnis, hingga motif politik. Kadang-kadang,

ada juga cracker yang melakukan hal ini semata-mata untuk menunjukkan kelemahan

suatu sistem kepada administrator yang mengelolanya.

Aktifitas destruktif lain yang bisa dikatagorikan sebagai cybercrime adalah penyebaran

virus (worm) melalui internet. Kita tentu masih ingat dengan kasus virus Melissa atau I

Love You yang cukup mengganggu pengguna email bebereapa tahun lalu. Umumnya

tidakan ini bermotifkan iseng. Ada kemungkinan pelaku memiliki bakat “psikopat” yang

memiliki kebanggaan apabila berhasil melakukan tindakan yang membuat banyak orang

merasa terganggu atyau tidak aman.

 

Cybercrime atau Bukan?

Tidak semua cybercrime dapat langsung dikatagorikan sebagai kejahatan dalam artian

yang sesungguhnya. Ada pula jenis kejahatan yang masuk dalam “wilayah abu-abu”.

Salah satunya adalah probing atau portscanning. Ini adalah sebutan untuk semacam

tindakan pengintaian terhadap sistem milik orang lain dengan mengumpulkan informasi

sebanyak-banyaknya dari sistem yang diintai, termasuk sistem operasi yang digunakan,

port-port yang ada, baik yang terbuka maupun tertutup, dan sebagainya. Kalau

dianalogikan, kegiatan ini mirip dengan maling yang melakukan survey terlebih dahulu

terhadap sasaran yang dituju. Di titik ini pelakunya tidak melakukan tindakan apapun

terhadap sistem yang diintainya, namun data yang ia dapatkan akan sangat bermanfaat

untuk melakukan aksi sesungguhnya yang mungkin destruktif.

Juga termasuk kedalam “wilayah abu-abu” ini adalah kejahatan yang berhubungan

dengan nama domain di internet. Banyak orang yang melakukan semacam kegiatan

“percaloan” pada nama domain dengan membeli domain yang mirip dengan merek

dagang atau nama perusahaan tertentu dan kemudian menjualnya dengan harga tinggi

kepada pemilik merk atau perusahaan yang bersangkutan. Kegiatan ini diistilahkan

sebagai cybersquatting. kegiatan lain yang hampir mirip dikenal sebagai typosquatting,

yaitu membuat nama domain “pelesetan” dari domain yang sudah populer. Para pelaku

typosquatting berharap dapat mengeduk keuntungan dari pengunjung yang tersasar ke

situsnya karena salah mengetik nama domain yang dituju pada browsernya.

Selain tindak kejahatan yang membutuhkan kemampuan teknis yang memadai, ada juga

kejahatan yang menggunakan internet hanya sebagai sarana. Tindak kejahatan semacam

ini tidak layak digolongkan sebagai cybercrime, melainkan murni kriminal. Contoh

kejahatan semacam ini adalah carding, yaitu pencurian nomor kartu kredit milik orang

lain untuk digunakan dalam transaksi perdagangan di internet. Juga pemanfaatan media

internet (webserver, mailing list) untuk menyebarkan material bajakan.

Pengiriman email anonim yang berisi promosi (spamming) juga dapat dimasukkan dalam

contoh kejahatan yang menggunakan internet sebagai sarana. Di beberapa negara maju,

para pelaku spamming (yang diistilahkan sebagai spammer) dapat dituntut dengan

tuduhan pelanggaran privasi.

Jenis-jenis cybercrime maupun kejahatan yang menggunakan internet sebagai sarana

ditengarai akan makin bertambah dari waktu ke waktu, tidak hanya dari segi jumlah

maupun kualitas, tetapi juga modusnya. Di beberapa negara maju dimana internet sudah

sangat memasyarakat, telah dikembangkan undang-undang khusus yang mengatur

tentang cybercrime. UU tersebut, yang disebut sebagai Cyberlaw, biasanya memuat

regulasi-regulasi yang harus dipatuhi oleh para pengguna internet di negara bersangkutan,

lengkap dengan perangkat hukum dan sanksi bagi para pelanggarnya.

Namun demikian, tidak mudah untuk bisa menjerat secara hukum pelaku cybercrime.

Tidak seperti internet yang tidak mengenal batasan negara, maka penerapan cyberlaw

masih terkendala oleh batasan yurisdiksi. Padahal, seorang pelaku tidak perlu berada di

wilayah hukum negara bersangkutan untuk melakukan aksinya.

Sebagai contoh, bagaimana cara untuk menuntut seorang hacker, katakanlah

berkebangsaan Portugal, yang membobol sebuah situs Indonesia yang servernya ada di

Amerika Serikat, sementara sang hacker sendiri melakukan aksinya dari Australia.

Lantas, perangkat hukum negara mana yang harus digunakan untuk menjeratnya? Belum

lagi adanya banyaknya “wilayah abu-abu” yang sulit dikatagorikan apakah sebagai

kejahatan atau bukan, membuat Cyberlaw masih belum dapat diterapkan dengan

efektifitas yang maksimal.

 

Pemanfaatan Internet

Dewasa ini, penggunaan internet telah merasuk pada hampir semua aspek kehidupan,

baik sosial, ekonomi, pendidikan, hiburan, bahkan keagamaan. Pendeknya apa saja yang

dapat terpikirkan!

Kita dapat mengetahui berita-berita teraktual hanya dengan mengklik situs-situs berita di

web. Demikian pula dengan kurs mata uang atau perkembangan di lantai bursa, internet

dapat menyajikannya lebih cepat dari media manapun.

Para akademisi merupakan salah satu pihak yang paling diuntungkan dengan kemunculan

internet. Aneka referensi, jurnal, maupun hasil penelitian yang dipublikasikan melalui

internet tersedia dalam jumlah yang berlimpah. Para mahasiswa tidak lagi perlu

mengaduk-aduk buku di perpustakaan sebagai bahan untuk mengerjakan tugas-tugas

kuliah. Cukup dengan memanfaatkan search engine, materi-materi yang relevan dapat

segera ditemukan.

Selain menghemat tenaga dalam mencarinya, materi-materi yang dapat ditemui di

internet cenderung lebih up-to-date. Buku-buku teks konvensional memiliki rentang

waktu antara proses penulisan, penerbitan, sampai ke tahap pemasaran. Kalau ada

perbaikan maupun tambahan, itu akan dimuat dalam edisi cetak ulangnya, dan itu jelas

membutuhkan waktu. Kendala semacam ini nyaris tidak ditemui dalam publikasi materi

ilmiah di internet mengingat meng-upload sebuah halaman web tidaklah sesulit

menerbitkan sebuah buku. Akibatnya, materi ilmiah yang diterbitkan melalui internet

cenderung lebih aktual dibandingkan yang diterbitkan dalam bentuk buku konvensional.

Kelebihan sarana internet yang tidak mengenal batas geografis juga menjadikan internet

sebagai sarana yang ideal untuk melakukan kegiatan belajar jarak jauh, baik melalui

kursus tertulis maupun perkuliahan. Tentu saja ini menambah panjang daftar keuntungan

bagi mereka yang memang ingin maju dengan memanfaatkan sarana internet.

Internet juga berperan penting dalam dunia ekonomi dan bisnis. Dengan hadirnya ecommerce,

kegiatan bisnis dapat dilakukan secara lintas negara tanpa pelakunya perlu

beranjak dari ruangan tempat mereka berada.

Internet juga merambah bidang keagamaan, bidang yang biasanya jarang mengadaptasi

perkembangan teknologi. Disini internet dimanfaatkan untuk sarana dakwah maupun

diskusi-diskusi keagamaan. Di Indonesia, jaringan-jaringan seperti Isnet (Islam) maupun

ParokiNet (Katolik) telah lama beroperasi dan memberikan manfaat yang besar bagi

umat. Kegiatan sosial seperti pengumpulan zakat dan Infaq dapat dilaksanakan secara

cepat melalui sarana internet.

Bagi mereka yang gemar bersosialisasi atau mencari sahabat, internet menawarkan

berjuta kesempatan. Baik melalui email maupun chatroom, para pengguna internet dapat

menjalin komunikasi dengan rekan-rekannya di segala penjuru dunia dalam waktu

singkat dan biaya yang relatif murah. Apabila dalam surat menyurat konvensional yang

menggunakan jasa pos, sebuah surat bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu dalam

perjalanan lintas benua, maka sebuah email hanya membutuhkan hitungan detik untuk

dapat menjangkau segala sudut dunia.

Biaya komunikasi lintas benua dapat lebih ditekan lagi. Dengan hadirnya teknologi VoIP

(Voice over Internet Protocol), pengguna telepon tidak lagi perlu mengeluarkan biaya

sambungan telepon internasional yang sangat mahal untuk menghubungi kolega atau

keluarga di luar negeri. Teknologi ini memungkinkan kita melakukan percakapan telepon

internasional dengan ongkos yang hanya sedikit lebih mahal dari biaya pulsa telepon

lokal.

Bagi yang berniat mencari hiburan, internet menawarkan pilihan yang berlimpah. Dengan

memanfaatkan game server, seseorang dapat bermain game bersama lawan dari negara

lain melalui jaringan internet. Pecinta musik juga semakin dimanja dengan hadirnya klipklip

MP3 dari lagu-lagu favorit. Bagi yang haus akan informasi dari dunia entertainment,

internet adalah surga dengan berlimpahnya situs-situs web para artis, baik nasional

maupun internasional.

Sebagaimana hal-hal lain di dunia, internet selain menawarkan manfaat, juga menyimpan

mudharat. Berlimpahnya informasi yang tersedia dari bermacam-macam sumber

membuat para netters harus jeli dalam memilah-milah. Maklum, karena sifatnya yang

bebas, maka tidak sulit bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memajang

informasi yang menyesatkan, atau bahkan yang menjurus ke arah fitnah. Tidak semua

informasi yang didapat melalui sarana internet terjamin akurasinya. Dalam hal ini, para

pengguna internet sangat dituntut kejeliannya agar tidak terlampau mudah percaya

terhadap informasi-informasi yang tidak jelas, baik sumber maupun kredibilitas

penyedianya.

Pembajakan karya intelektual juga merupakan salah satu ekses negatif dalam penggunaan

internet. Tahukan anda bahwa format musik MP3 yang populer itu hampir semuanya

ilegal? Dan materi ilegal semacam ini dapat dengan mudah menyebar berkat “jasa”

internet.

Disamping contoh-contoh diatas, masih tak terhitung lagi sisi gelap dari penggunaan

internet. Tidak heran, beberapa negara yang terhitung “konservatif”, seperti Arab Saudi

dan China, membatasi secara ketat akses internet bagi warganya.

Kemudahan dan kenyamanan dalam berkomunikasi via internet juga ditengarai membuat

banyak netters kehilangan kesempatan, bahkan kemampuan, untuk berkomunikasi secara

personal. Mereka tenggelam dalam keasyikan ber-chatting atau ber-email dengan teman

di dunia maya hingga melupakan sosialisasi di dunia nyata.

Terlepas dari segala ekses negatif tersebut, internet tetaplah hanya sekedar sarana. Ia

hanyalah alat, bukan tujuan. Di tangan para penggunanyalah internet dapat memberikan

manfaat atau malahan justeru mudharat.

– Revisi Terakhir: ch4m4_smkn One Pasuruan